eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

1:05 PM

Masker, Tak Bisa Cegah Penularan Virus H1N1

Posted by Eeda |

SEMARANG- Banyak yang mengira kalau kita sudah mengenakan masker, akan terhindar dari penularan virus H1N1. ''Mengurangi kemungkinan mungkin iya tapi tidak bisa mencegah.'' Hal itu diungkapkan Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo MS Med Sp And saat seminar nasional ''Antisipasi Pencegahan Penyebaran Flu Babi (virus H1 N1)'' di Gedung Prof Sudartho SH, Undip Tembalang (19/5).

Cara efektif untuk mencegah penularan antara lain, kata dia, adalah mencuci tangan setelah bersalaman atau menyentuh sesuatu yang ditengarai terkontaminasi virus itu. ''Orang yang sakit, jangan keluar rumah. Selain itu juga meminimalisir kontak dengan babi, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin dan tidak mengunjungi negara yang warganya banyak terkena flu babi.''
Kendati demikian, Rektor tidak setuju jika solusi untuk mencegah penyebaran virus itu adalah dengan memusnahkan babi di semua peternakan seperti yang dilakukan Pemerintah Mesir. ''Peternak pastinya akan rugi besar. Kalau ada manusia yang terjangkit flu itu, bukan berarti manusia harus dimusnahkan.''
Ia menengarai bahwa ada pihak-pihak yang memiliki tujuan tertentu dengan membuat panik warga dunia dengan penyebaran virus itu. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan ini akal-akalan WHO. ''Yang jelas, produsen vaksin sudah siap-siap meningkatkan produksi. Ini bisnis yang sangat menguntungkan. Mereka jual vaksin dengan menakut-nakuti warga dunia.'' Ia menilai kejadian itu sebagai usaha untuk mendongkrak ekonomi AS yang sedang memburuk.
Pada acara yang diprakarsai Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip itu, Kadinas Kesehatan Provinsi Jateng Hartanto yang menjadi pembicara pada seminar itu menjelaskan, pencegahan/antisipasi dan pemberantasan flu babi harus dimulai dari sekarang. Apalagi sebentar lagi, sambung dia, musim haji akan tiba di mana 2 juta manusia dari seluruh dunia akan berkumpul di Arab Saudi. Lantas siapakah kelompok resiko tinggi flu H1N1? Hartanto menjelaskan, mereka adalah orang yang berasal dari negara terjangkit, TKI, pekerja peternakan/pemroses babi, pekerja laboratorium, pengunjung peternakan babi, kontak dengan pasien flu H1N1, dan masyarakat yang mengonsumsi daging babi yang dimasak tidak sempurna. ''Depkes sendiri telah melakukan 6 langkah kesiapsiagaan terkait flu tersebut yakni mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit itu dari berbagai sumber.'' Selain itu berkoordinasi dengan WHO untuk memantau perkembangan, membuat surat edaran kewaspadaan diri, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Deptan, Deplu, dan lain-lain.
Di Jateng sendiri, imbuhnya, pemda sudah menugaskan SKPD terkait untuk koordinasi, melalukan sosialisasi terkait pencegahan, pengawasan lalu lintas dan kebersihan peternakan, menyiapkan RS, laboratorium klinik rujukan,masker, tamiflu, disenfektan, dan sebagainya.
Pakar epidemiologi dr Agus Suwandono MPH PhD mengungkapkan gejala-gejala flu pada babi yakni karakteristik penyakit onset mendadak dan menyebar dengan cepat pada peternakan babi (1-3 hari), demam (104-107 derajat farenheit), nyeri otot dan ada kelemahan kaki, keluar cairan dari mata dan hidung. ''Babi juga tak napsu makan, batuk bersin, terdengar suara ngorok, diare, dan berakhir dengan kematian walau mortality rate rendah yakni 1-4%.'' Yang terpenting, tandasnya, mencegah agar virus ini tak masuk Indonesia.
Pakar virologi dan zoonosis Prof drh Widya Asmara SU PhD menjelaskan bagaimana flu babi bertransmisi ke manusia yakni dengan kontak dengan babi yang sudah terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi dengan virus H1 N1. ''Kontak dengan orang yang kena flu babi juga bisa. Itu bisa melalui batuk dan bersin orang yang sudah terinfeksi.''
Pembicara lain yakni pakar infeksi dan pulmonologi yang juga tim emerging infectious diseases RSUP Dr Kariadi, dr Agus Suryanto SpPD KP memaparkan bahwa RS tersebut telah melakukan berbagai persiapan untuk menangani pasien dan suspect flu burung dan babi yakni dengan memiliki tim emerging infectious diseases yang terdiri atas berbagai dokter spesialis yang terintegrasi, melakukan standar prosedur operasional, koordinasi lintas sektoral, serta membuat jejaring eksternal. ''Kami juga melengkapi sarana dan prasarana seperti ruang isolasi, observasi, perawatan intensif, peralatan medis/nonmedis, serta laboratorium rujukan regional.'' (H11-)

[Read full post]
12:56 PM

Hafal Peta Dunia, Murid TK Raih MURI

Posted by Eeda |


TAHUKAH Anda, Ibukota negara Lesotho. Atau di mana letak negara Kiribati?. Lantas, Kawasan mana Oseania itu, lalu bagaimana bentuk dan warna bendera Republik Dominika. Mungkin bagi sebagian besar orang, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sulit dijawab. Bahkan nama negaranya saja mungkin belum pernah dengar. Namun bagi Mohammad Itqon Alexander atau biasa disapa Alex (5), hal itu perkara mudah.

Siswa TK Khodijah, Plamongan Indah, Pedurungan, Semarang itu tidak sekedar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut namun bisa menunjukkan letak sebuah negara tanpa melihat peta, termasuk sejarahnya. Ketika ditanya Suara Merdeka saat ditemui di rumahnya di Jl Kelapa Gading VII belum lama ini, di mana letak negara Georgia, dengan lancar Alex menjawab. ''Itu di Asia kawasan utara, berbatasan dengan Rusia dan Azerbaijan, pecahannya Uni Sovyet, ibukotanya Tbilisi. Benderanya berbentuk persegi panjang warna putih, di tengahnya ada palang merah yang di tiap kotaknya ada palang merah kecil 4 buah.''
Atas kemampuannya itu, anak pertama dari pasangan Mohammad Ichwan (32) dan Misbahatul Hidayati (28) yang lahir pada 21 Nopember 2003 itu di''ganjar'' penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). MURI mencatatnya sebagai rekor Pembaca Peta Termuda, 5 tahun 4 bulan, yang hafal bendera dan ibukota negara dengan jumlah terbanyak (194 buah).
Adapun penganugerahan piagam rekor diserahkan oleh Menpora RI Dr Adyaksa Dault dan Ketua Umum MURI Jaya Suprana, didampingi Direktur MURI Aylawati Sarwono, di Bentara Budaya, Jakarta . Selain Alex, ada 59 rekoris lain dari berbagai bidang prestasi yang menerima penghargaan itu. Mohammad Ichwan menceritakan, sewaktu Alex diuji di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (6/5), dewan juri MURI dibuat terkaget-kaget. Ketika di sela pertanyaan identifikasi bendera dan ibukota secara acak mencapai 50 soal, juri mencoba mengetes penguasaan Alex, berapa jumlah negara pecahan Uni Sovyet. ''Alex justru menyebutkan seluruh nama negara dimaksud, serta memberi tahu bahwa federasi negara-negara tersebut sekarang bernama Commonwealth of Independent States (CIS). J. Ngadri, salah satu ketua dewan juri, sambung dia, mengaku baru tahu hal itu dari Alex.
Dalam pengujian tersebut, juri memasang gambar peta buta, yakni tulisan nama negara dan ibukotanya ditutup stiker. Juri bertanya dengan memperlihatkan gambar bendera, Alex harus bisa menebak nama negaranya, lalu ibukotanya, kemudian menunjukkan lokasinya di dalam peta. ''Alex selalu tepat menjawab pertanyaan juri walau ia menjawab sambil mondar-mandir, berlari putar-putar, menyeret-nyeret kursi atau memain-mainkan bonekanya. Sesekali ia ndeprok di lantai, lalu melompat menuju bundanya untuk minta minum.''
Kuasai Wawasan Nusantara
Tidak hanya pengetahuan mengenai geografi dan sejarah negara-negara di dunia yang dikuasai Alex. Ia juga menunjukkan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas tentang negaranya sendiri. Antara lain 33 provinsi di Indonesia beserta ibukotanya. ''Aku juga tahu lambang-lambang provinsinya lho,''tutur Alex. Tak hanya itu, Alex juga tahu tentang para tokoh Indonesia. Ketika ditanya siapa itu JK, dengan lantang Alex menjawab. ''JK itu Jusuf Kalla, calon presiden yang juga Ketua Umum Golkar, partai nomor 23,'' ungkapnya sambil nguyek-uyek bonekanya dengan gemas. Ternyata, bocah cilik itu juga hafal nama-nama parpol peserta Pemilu 2009 beserta logo, gambar, dan nomor urutnya.
Ichwan menuturkan bahwa anaknya sejak usia 2 tahun menyukai gambar. Mengetahui ketertarikan sang buah hati akan hal tersebut, ia lantas sering membelikan poster lalu ditempel di tembok rumah. Ada poster bergambar hewan jinak, binatang buas, burung dan unggas, reptil, serangga, alat transportasi, dan lainnya. Setiap Alex mengamati gambar-gambar yang tertempel di dinding, semua anggota keluarga memberikan penjelasan terkait gambar-gambar tersebut.Lantas ketika ditanya apa cita-citanya kelak, dengan gamblang Alex menjawab ''Aku ini hobi berfikir dan cita-citaku ingin jadi masinis.'' Lho memang masinis itu banyak berfikir ya. ''Tentu saja. Kalau masinis tidak berfikir, keretanya tabrakan dong, ''ujarnya sambil sibuk menggambar KA Banyubiru Ekspress. (Ida N, Maulana M Fahmi-)

[Read full post]
2:06 AM

Bisa Hidup dari Musik

Posted by Eeda |


Beberapa puluh tahun lalu, hidup sebagai musisi bisa dibilang tidak menjanjikan. Maka tidak heran jika banyak orangtua yang tidak senang jika buah hatinya memilih jalan hidup sebagai musisi, atau anaknya menikah dengan musisi. Namun keadaan saat ini tidak demikian. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya musisi-musisi muda di belantika musik Indonesia yang dapat hidup mapan. Karena itulah, Samboedi, drummer senior yang telah menelurkan drummer-drummer yang saat ini bermain di band-band terkenal seperti Sheila on 7, Samsons, dan lain-lain berobsesi mencetak musisi Indonesia yang bertanggungjawab, bermutu, dan punya attitude.

Hal itu diungkapkannya saat ditemui Suara Merdeka di sekolah musik miliknya, Samboedi Music School di Jl Kesatrian K-29 (30/4).
''Yang saya maksudkan dengan bertanggungjawab adalah seorang musisi harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri, Tuhan, orangtua, masyarakat, dan kancah musik itu sendiri. Item-item itu tidak bisa diartikan secara parsial, melainkan harus satu paket,'' kata pria kelahiran 19 Juni 1945 tersebut.
Tak Paksakan Aliran
Oleh karenanya dalam waktu dekat, guru dari musisi Gilang Ramadhan itu berencana menggelar workshop drum dan perkusi yang diperuntukkan untuk meningkatkan musikalitas mereka . Namun demikian, sekolah musik milik pria yang mendalami drum secara otodidak sejak 1961 itu tidak hanya mengajarkan alat musik drum, tapi juga kibor, gitar, bas, dan vokal. Adapun para guru yang ia rekrut adalah praktisi di bidangnya masing-masing. ''Saya ingin sekolah musik ini menjadi rumah kedua bagi para musisi. Begitu masuk, aroma musiknya sudah tercium. Jadi, tidak sekedar tempat latihan, namun juga tempat untuk sharing pengetahuan dan pengalaman.'' Sebagai tambahan informasi, hampir semua musisi jazz beken yang manggung di Semarang seperti Ermy Kullit, Mus Mudjiono, Laurentz Manaba, dan sebagainya sebelum naik pentas, selalu menyempatkan diri berlatih dulu di sekolah musik tersebut.
Kendati dikenal sebagai drummer beraliran jazz, namun Samboedi tidak pernah memaksakan aliran musik itu pada murid-muridnya. ''Lihat saja murid-murid saya yang sekarang sudah menjadi musisi terkenal, alirannya kan beda-beda semua,'' ujar mantan pengajar di Sekolah Musik Farabi milik Dwiki Dharmawan sejak pertengahan 1997-2005 itu.
Mengingat sekolah musiknya tersebut tidak sama dengan tempat kursus musik, maka kurikulum yang digunakan seperti layaknya di perguruan tinggi. Para siswa, imbuhnya, sesuai dengan kemampuannya terbagi atas 3 level, yakni basic, intermediate, dan advance dengan masa belajar untuk masing-masing level adalah 1 tahun.
Kendati para siswa dibebaskan memilih aliran sesuai kemauannya, namun di sekolah itu mereka semua dilatih berbagai aliran musik seperti Latin dan Basic Swing/jazz feel. ''Mempelajari Latin sangat berguna untuk melatih rhythm section bas dan drum. ''Jadi kalau saya bilang pemain drum dan bas harus kawin ya jangan diartikan kawin sebenarnya.'' Sedangkan jazz feel, diajarkan untuk mengasah rasa mereka karena mempelajari jenis musik apapun harus dengan rasa.''
>Musik di Semarang
Lantas, bagaimana seorang Samboedi menilai perkembangan musik di Semarang? Dijelaskannya, Semarang sebenarnya menyimpan potensi musik yang besar. Banyak musisi-musisi besar yang lahir di Kota ATLAS, ungkap dia, namun sayangnya tidak banyak terekspos. Seperti penggagas North Sea Jazz Festival Paul Acket yang ternyata adalah kelahiran Semarang. Wadah untuk berekpresi bagi para musisi, sambung dia, sebenarnya tersedia di Semarang. ''Namun sayang, masyarakat Semarang masih banyak yang belum menghargai musik. Apa-apa ditawar.'' Hampir setiap akan menggelar pertunjukan, imbuh dia, hal utama yang dipikirkan adalah unsur komersial. ''Padahal, seperti musik Jazz, belum bisa demikan.'' Karena itulah ia berharap ada kepedulian dan perhatian dari pihak sponsor musik di Semarang, orang yang peduli pada musik, dan musisi itu sendiri agar dapat saling mendukung memajukan musik di Kota ATLAS. (Ida N-)

[Read full post]

SEMARANG Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri patogen menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Penanganan penyakit tersebut dengan penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana telah menimbulkan masalah baru dengan berkembangnya strain yang resisten terhadap antibiotik. Peneliti Lemlit Undip Dr Delianis Pringgenies MSc.

Dijelaskannya, bakteri mempunyai potensi sebagai sumber senyawa antimikroba. Terdapat asosiasi bakteri dengan moluska yang diduga juga mensistesis metabolit sekunder persis seperti organisme inangnya atau moluska sebagai inangnya. Delianis yang melakukan penelitian potensi moluska bersama Dr Ocky K Radjasa MSc, Dr Agus Sabdono MSc (Jurusan Ilmu Kelautan, FPIK Undip) dan Endang Sri Lesatari,MD (FK Undip) dengan bantuan dana RISTEK 2008 itu menjelaskan, keberadaan bakteri yang berasosiasi dengan moluska laut telah memungkinkan penggunaan organisme tersebut sebagai sumber utama bakteri yang baru dan sumber senyawa bioaktif. ''Termasuk senyawa antimikroba khususnya dalam menangani strain yang resisten terutama multi-drugs resistant (MDR).'' Adapun MDR artinya antibiotik yang resisten terhadap lebih dari tiga kelas senyawa antibiotik.
Moluska,imbuhnya, diketahui menghasilkan metabolit sekunder dan sekaligus mempunyai peranan penting dalam ekologinya sehingga telah menjadi target bagi sumber senyawa bioaktif yang bermanfaat dalam dunia farmasi bahari.
Delianis menjelaskan, penelitian tersebut bertujuan untuk mengisolasi bakteri simbion dari moluska (bivalvia, gastropoda), menscreening moluska dan bakteri simbionnya yang berpotensi menghasilkan senyawa anti-bakteri terhadap strain MDR serta analisis filogenetik dari isolat bakteri yang mempunyai potensial untuk dikembangkan.

''Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah berupa informasi tentang jenis-jenis moluska dari kelas bivalvia dan gastropoda dan bakteri simbionnya yang mampu menghasilkan senyawa anti-bakteri yang aktif terhadap golongan bakteri MDR, yang diidentifikasi dengan pendekatan molekuler.'' Nantinya, sambung dia, akan digunakan sebagai materi dasar untuk aplikasi bioteknologi dalam penelitian selanjutnya.
Adapun sampling moluska dikoleksi dari perairan Jepara, Pekalongan dan pulau Ternate, Maluku. Selanjutnya dilakukan isolasi bakteri, screening bakteri penghasil senyawa anti-MDR, uji antibakteri moluska, uji sensitifitas antibakteri, uji kepekaan terhadap kuman antimikroba, ekstraksi DNA, amplifikasi DNA dilakukan dengan metode PCR, Sekuensing DNA. Hasil sekuen 16S rDNA selanjutnya dianalisis dan diedit dengan menggunakan program GENETYX dan Analisis sekuen 16S rDNA.
Dapat disimpulkan dari hasil penelitian, imbuh dia, bahwa isolat bakteri aktif yang diperoleh dari bakteri simbion moluska perairan Ternate menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Pasalnya, ada tiga isolat yang mampu menghambat lebih dari satu jenis bakteri MDR yakni jenis bakteri MDR klebsiella, pseudomonas, staphylococcus, e coli, dan enterobacter.
Lautan merupakan sumber dari kelompok besar kimia bahan hayati laut dengan struktur yang unik, yang terutama terakumulasi pada hewan-hewan. Namun demikian, kata dia, potensi moluska sebagai sumber senyawa bioaktif masih sangat terbatas dimanfaatkan. Hasil screening terhadap isolat bakteri simbion pada moluska yang diambil dari Maluku Utara menunjukkan bahwa bakteri simbion moluska sangat potensial dalam menghambat pertumbuhan bakteri MDR. Di sisi lain, kata Delianis, eksploitasi senyawa bioaktif dari bakteri merupakan poin penting dalam konservasi karena selama ini masalah suplai bahan baku obat menjadi kendala dalam pengembangan senyawa bioaktif dari invertebrata laut. Senyawa yang dihasilkan sangat terbatas sehingga dapat mengancam keberadaan biota laut itu sendiri. Jadi dalam konteks pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan hasil penelitian tersebut, sambung dia, sangat menjanjikan untuk ditindak lanjuti lebih lanjut. ''Ini jelas potensi yang dapat ditindak lanjuti guna mendapatkan sumber antibiotika baru yang potensial untuk mengontrol bakteri MDR.'' (H11-)

[Read full post]
1:36 AM

Salah Interpertasi Sekolah Gratis

Posted by Eeda |

SEMARANG-Program sekolah gratis yang dicanangkan pemerintah sering disalahinterpretasikan oleh masyarakat. Dikira, pemerintah tidak sekedar menggratiskan biaya sekolah, namun menanggung beban hidup anak usia wajib belajar seperti uang transport, alat tulis, dan sebagainya. ''Lha wong anak yang tidak sekolah saja butuh biaya kok. Jadi biaya pribadi peserta didik misalnya uang saku, transport, sepatu, buku/alat tulis adalah tanggung jawab peserta didik, dalam hal ini orang tua dalam pendanaan pendidikan.''
Hal itu diungkapkan Mendiknas RI Prof Dr Bambang Sudibyo di hadapan para rektor, kepala dinas pendidikan, dan pakar pendidikan se-Jateng pada acara sosialisasi Kebijakan Pendidikan Gratis Pendidikan Dasar Tahun 2009 dan UU BHP di LPMP Srondol (17/2).

Karena itulah ia meminta pemerintah daerah menerbitkan perda yang jelas tentang aturan sekolah gratis mengingat satu daerah dengan daerah lain kondisinya berbeda. ''Perda harus jelas mengatur mana yang gratis dan mana yang pendanaan pendidikannya dibebankan pada peserta didik. Kalau perda tidak abu-abu, maka tidak akan protes dari masyarakat terkait pelaksanaan peserta gratis.''
Mendiknas juga menyinggung pemberian jumlah biaya operasional sekolah (BOS) yang meningkat untuk tahun 2009. Namun bukan berarti BOS, kata Menteri, menghalangi peserta didik/orangtua/wali yang ingin memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat pada sekolah. ''Harus dibedakan antara sumbangan dan pungutan. Saat ini tidak sedikit kepala sekolah yang takut menerima sumbangan karena khawatir diperiksa kejaksaan.'' Padahal, sambung dia, hal itu diperbolehkan mengingat sumbangan sifatnya tidak ditentukan jumlah dan waktu penyerahannya. Di samping itu, sumbangan pada sekolah merupakan bagian dari kedewasaan masyarakat.
Menteri mengungkapkan bahwa di beberapa provinsi di Indonesia, pemda setempat memiliki kebijakan untuk menambah BOS dari anggara mereka sendiri seperi DKI yakni 2 kali lipat, Sumsel, Sulsel, Sulteng, Jabar, dan Kaltim. ''Jawa Tengah tidak usah ikut-ikut DKI karena tidak akan mampu, namun sebaiknya meniru Sulsel.''
Ada beberapa alasan mengapa Bambang meminta Jateng menjadikan Sulsel sebagai acuan mengingat kemampuan yang ada di dua daerah itu hampir sama. Pemprov Sulsel, kata dia, bersama kab/kota sepakat untuk menambah separo, secara total dari jumlah BOS (anggaran BOS lama). ''Dan di sana, pada 2008 pendidikan gratis sudah bisa diwujudkan.'' Pemprov setempat, kata dia, juga sudah menandatangani MoU dengan kepolisian dan jaksa terkait penindakan mana saja yang bisa ditangani aparat (pidana) dan mana yang tidak (administratif). ''Ada sekolah yang komite sekolahnya adalah guru besar di salah satu perguruan tinggi di sana. Namun sekolah itu memungut biaya pendidikan. Kendati demikian aparat menindak tegas , tidak pandang bulu dan memerkarakan hal itu ke jalur hukum.''
Mendiknas pada kesempatan itu juga menyinggung masalah UU BHP yang mengundang kontra sebagian elemen masyarakat. Bambang mengajak seluruh masyarakat untuk terlebih dahulu membaca UU tersebut secara utuh sebelum mengkritik. ''UU BHP sudah diamanatkan oleh UU Sisdiknas. Ini merupakan reformasi struktural satuan pendidikan. Dengan demikian otonomisasi satuan pendidikan lebih optimal dan mengarah pada demokratisasi satuan pendidikan.''
Ia juga membantah anggapan berbagai pihak bahwa pemerintah lepas tangan dengan terbitnya UU itu mengingat pemerintah tetap menangung biaya wajar dikdas, biaya operasional, dan sebaginya. Ia juga menampik bahwa BHP identik dengan komersialisasi karena bagi mereka yang terbukti memperkaya diri sendiri akan dikenai sanksi tegas yakni ancama hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. (H11-)

[Read full post]
1:34 AM

Pengelolaan Air Minum Plasma

Posted by Eeda |

SEMARANG-Belum lama ini, Undip meluncurkan teknologi pengelolaan air minum dengan teknologi plasma. Kahumas Undip Agus Naryoso menjelaskan, teknologi tersebut dihasilkan untuk merespon kebutuhan masyarakat luas mengenai air minum yang bersih sehat serta ekonomis. ''Teknologi itu murni merupakan hasil inovasi Undip melalui proses riset mendalam sehingga benar-benar menghasilkan keluaran yang berkualitas.''

Dijelaskannya, alat itu menawarkan banyak keunggulan dibanding dengan teknologi pengolahan air konvensional. Dengan lima tahap filtrasi menggunakan membran semipermeable dengan ukuran pori < 0,0001µm, semua jenis logam berat, senyawa racun, virus, dan bakteri akan tersaring.
Setelah melalui proses filtrasi, sambungnya, kemudian dilanjutkan dengan proses ozonisasi dengan menggunakan teknologi plasma. ''Jadi, air yang dihasilkan benar-benar terjamin higienitasnya dan aman untuk diminum.'' Diungkapkannya, ada dua model yang dibuat yaitu untuk kebutuhan rumah tangga dan skala depot isi ulang, tergantung dari kapasitas produksi yang diinginkan.
Alat itu memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, karena untuk mendapatkan air minum 1 galon dengan kualitas yang sama dengan produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar dipasaran kita hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 600. Bandingkan dengan kita melakukan isi ulang di depot isi ulang, kita harus mengeluarkan uang paling tidak minimal Rp 3 ribu. ''Apalagi kalau kita refill dengan menggunakan produk AMDK yang harganya jauh lebih mahal. Dengan alat ini masyarakat sangat terbatukan untuk mendapatkan air bersih yang murah.''
Teknologi itu, sambung dia, dirancang dengan komponen tersedia di pasar lokal dan sangat mudah perawatannya. Bagi masyarakat yang akan berbisnis dengan memanfaatkan teknologi ini mempunyai prospek yang sangat menjanjikan. Di mana dengan teknologi yang relatif murah mampu menghasilkan keuntungan yang tinggi. Ukuran depot isi ulang kapasitas 1000 liter per hari. Sedangkan kebutuhan rata-rata per hari ukuran rumah tangga keluarga Indonesia sekitar dengan kapasitas 10 galon per hari. (H11,H3-)

[Read full post]
1:25 AM

2009, Anggaran BOS Naik

Posted by Eeda |

SEMARANG- Untuk tahun 2009, nominal pemerima bantuan operasional sekolah per siswa per tahun akan naik. Untuk siswa SD/SDLB dari Rp 254 ribu menjadi Rp 400 ribu untuk kota dan Rp 397 ribu untuk kabupaten. Sedangkan untuk siswa SMP/SMPLB dari Rp 354 ribu menjadi Rp 575 ribu untuk kota dan Rp 570 ribu untuk kabupaten. Hal itu diungkapkan Sekertaris Tim Manajemen BOS Jateng Drs Indiarto Edi Cahyono MPd pada acara forum komunikasi wartawan dan LSM yang membahas tentang BOS di Dinas Pendidikan Jateng (16/12).
Indiarto yang juga staf bidang dikdas Dinas Pendidikan Jateng itu menekankan bahwa melalui BOS, semua SD dan SMP negeri harus membebaskan siswa dari biaya operasional sekolah. ''Kecuali rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan SBI.''

Adapun pemda, kata dia, wajib mengendalikan pungutan biaya operasional di SD dan SMP swasta. Sehingga, siswa miskin bebas dari pungutan yang berlebihan. ''Pemerintah juga harus memberikan sanksi pada pihak yang melanggar dan memenuhi kekurangan biaya operasional dari APBD apabila BOS dari Depdiknas belum mencukupi.''
Indiarto mengakui masih ditemukan permasalahan dalam pelaksanaan BOS di Jateng. Misalnya, akurasi data yang berkurang dan berlebih. Hal itu dikarenakan, misalnya, mutasi siswa, regrouping sekolah, dan sebagainya. Secara administrasi, akuntabilitas, dan pencitraan publik, ujar dia, pengelolaan BOS di sekolah belum optimal. ''Ada juga sekolah yang masih menarik biaya dari siswa tak mampu. Partisipasi masyarakat dan orangtua siswa mampu dalam pengembangan sekolah belum optimal.'' Namun demikan, Staf Humas Dinas Pendidikan Jateng Sugeng Alal menambahkan bahwa Jateng masih menduduki peringkat 1 dalam pengelolaan BOS dibanding provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Indiarto menambahkan bahwa untuk memecahkan masalah BOS di Jateng, pihaknya akan mengupayakan perbaikan sistem pendataan dengan format pendataan dan verifikasi data BOS dengan kab/kota dan sekolah per tiga bulan. Selain itu, imbuh dia, koordinasi-koordinasi dan evaluasi kinerja akan selalu dilakukan baik dengan tim BOS kab/kota dan sekolah, maupun dengan lembaga penyalur. Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Jateng Drs Sutikno yang mewakili Kadinas Pendidikan Jateng menjelaskan, melalui dana APBD, Pemerintah Jateng sejak 2005 telah menggulirkan program pendampingan dana BOS melalui program beasiswa keluarga kurang mampu (BKKM) untuk SD/MI dan SMP/MTs. ''Untuk 2005, dana pendampingan berjumlah Rp 5.410.000.000, 2006 berjumlah Rp 7.365.000.000, 2007 berjumlah Rp 7.385.000.000.'' Tahun ini dana pendampingan berjumlah Rp 15 miliar, sedangkan tahun depan direncanakan Rp 17 miliar.
Adapun dana BOS dari 2005-2008 berjumlah Rp 34,8 triliun. Dan tahun ini, dana yang digulirkan adalah Rp 9,5 triliun untuk Jateng. ''Yang sudah mendapatkan alokasi sebesar Rp 1,3 triliun.''
Pembicara lain, Kepala SMPN 2 Drs Sutomo MPd menjelaskan, walaupun sekolah yang dipimpinnya adalah RSBI, namun bagi mereka yang tidak mampu tetap akan dibebaskan dari biaya. Diungkapkannya bahwa tidak mudah mengkategorikan mana siswa yang mampu dan mana yang tidak. Hal itu sepenuhnya ia serahkan pada komite sekolah. Ia mencontohkan ada seorang siswanya yang orangtuanya memiliki rumah dan motor. Namun orangtua tersebut baru saja diPHK, jadi tak punya penghasilan. ''Siswa itu tentu saja digolongkan tidak mampu.''
Di SMPN 2, kata dia, tidak sedikit orangtua/dan wali murid yang berpatisipasi aktif untuk menyukseskan kegiatan belajar mengajar. ''Misalnya memberikan bantuan untuk siswa tak mampu yang ingin melanjutkan sekolah, dan sebagainya.'' (H11-)

[Read full post]


SEMARANG-Hanya sedikit pemuda yang mau terjun dalam bidang perikanan dan kelautan.''Pekerjaan itu dianggap desperate,danger, dan dirty (3 D), padahal potensi perikanan dan kelautan di Indonesia yang besar.'' Hal itu diungkapkan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dr Adyaksa Dault saat memberikan kuliah umum dalam rangka HUT ke-40 Jurusan Perikanan, FPIK Undip di gedung Pascasarjana Undip Kampus Pleburan (28/11).
Selain SDM, kata dosen luar biasa Undip itu, sumberdaya penting yang dimiliki Indonesia adalah kelautan mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. ''Jika kedua potensi ini digabungkan, maka hasilnya sangat besar bagi pembangunan ekonomi kita.''

Mantan Ketua DPP KNPI tersebut menjuluki sumberdaya budidaya perikanan sebagai sleeping giant atau raksasa tidur karena potensinya belum dimanfaatkan secara optimal dan sistematis, padahal tersebar di seluruh kepulauan.
Lantas, bagaimana kita membangunkan raksasa tidur itu? Ia menegaskan bahwa ini adalah pangggilan pemuda untuk mewujudkan Indonesia sebagai produsen utama perikanan dunia. Dituturkannya, bagi mereka yang tak punya lahan, sebenarnya lebih mudah terjun menjadi pembudidaya ikan daripada ke sektor lain. Selain dapat dijadikan mata pencaharian dan sumber kehidupan keluarga, budidaya perikanan merupakan sumber ketahanan pangan protein di pedesaan.
Doktor jurusan teknik kelautan itu menjelaskan bahwa tanpa sumberdaya pemuda, suatu bangsa tidak akan maju. Memang, sumberdaya yang lain masih ada namun jika sumberdaya pemuda jumlahnya tak cukup dan berkualitas baik, tandas dia, maka masa depan bangsa itu tidak terjamin.
Pada topik kuliah umumnya yakni ''Pemuda dan Kelautan'', pria kelahiran Donggala Sulteng 7 Juni 1963 itu memaparkan, untuk menjadi nelayan profesional, pemuda Indonesia perlu mengembangkan kapasitas penguasaan teknologi. ''Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengembangkan kemampuan usaha, manajerial, dan kepemilikan modal sosial agar dapat bersaing dengan industri perikanan asing.''
Yang jelas, tegas dia, untuk menciptakan produk berkualitas dunia, Indonesia membutuhkan banyak pakar teknologi pangan, kimia pangan, teknologi pangan, dan pemasaran. ''Dan jangan lupa, Indonesia butuh ribuan pengusaha baru untuk pengembangan bisnis dan usaha.''
Pada kesempatan itu, ia juga mendorong pemuda untuk membangun pulau-pulau kecil. Karena itulah, ungkapnya, pemuda di pulau-pulau kecil harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dan kemampuan mereka. Perlu juga keberpihakan bagi mereka dan membuka kesempatan serta peluang ekonomi. Prasarana dasar dan sarana pengembangan ekonomi kreatif harus disediakan.
Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo Med MS SpAnd menambahkan bahwa dalam waktu dekat Undip akan membeli kapal baru untuk riset bagi mahasiswa FPIK Undip. (H11-)

[Read full post]
Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe