eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

7:32 PM

Please People...Let's Make Things Better

Posted by Eeda |

Photo by Leonardus Agung BP
TEMEN-TEMEN, saya tidak tahu apakah hal ini pernah terjadi di kota Anda. Namun selama musim hujan, sejak awal Oktober, di Semarang banyak terjadi angin puting beliung yang menumbangkan pohon-pohon. Korbannya tidak hanya mobil pengguna jalan yang melintasi Jl Taman Diponegoro ini, namun juga penduduk di kawasan lain.

Rumah-rumah mereka banyak juga yang ambruk.
photo by Maulana M Fahmi

Saya pernah wawancara dengan seorang pakar tata kota dari Undip. Ternyata masang baliho itu juga ada aturannya. Ini adalah contoh akibat pemasangan baliho yang mengabaikan aturan-aturan tersebut.

Photo by Maulana M Fahmi

Dan akibatnya, masyarakat tidak berdosa menjadi korbannya. Tukang becak yang keambrukan baliho ini segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keadaannya kritis. Lha kalau kaya begini, siapa yang tanggung jawab?

Photo by Saptono Joko Sulistiya

Trus kalo udah kejadian kaya gini, sapa dong yang salah? Saya pernah bincang-bincang dengan seorang pakar tata kota dari Undip, yakni pak Eddy Printo. Beliau mengatakan, hal ini sebenarnya bisa dicegah jika arsitek pemkot tidak menata kota dengan gaya melorong. Menata kota dengan gaya seperti itu emang memudahkan angin besar langsung menerjang. Kan ga ada tamengnya.

Saya ga tau nih guys kalo di kota kalian gimana. Tapi kalo di sini, pengaspalan en pemavingan tuh kebablasan. Saking bablasnya, ga ngasih ruang akar pohon untuk berkembang. Akibatnya, akar2 pohon mencuat ke permukaan karena udah ga kuat lagi mencengkram tanah.

So bisa ditebak deh kalo angin besar dateng, ....BRRUUUKKK...tuh pohon-pohon pada tumbang deh. Harusnya dinas pertamanan en DPU koordinasi dong. Kl dirembug duluan, jadinya kan ga kaya gini.

O iya..mungkin kita ga sadar telah memberikan kontribusi pada kerusakan pohon. Misalnya menempelkan iklan di pohon2 tak berdosa itu dengan cara memaku. Kalau tuh pohon punya mulut, pasti bakalan merintih sepanjang hari. Atau bahkan mungkin screaming....





Dan yang lebih memilukan lagi nih temen-temen blogger...calon wakil2 kita juga tidak menunjukkan contoh yang baik. Pasti sering liat kan guys, bendera2 parpol en caleg yang dipaku di pohon2 dengan sembarangan? Saya bukannya menghasut atau sejenisnya tp bayangin aja negara kita dipegang sama orang2 yang ga peduli sama lingkungan. Saya mo konfirmasi sama tuh parpol2 en caleg2 juga percuma. Males. Paling juga jawabnya ''Lho yang masang kan bukan saya'' . Enak bgt lepas tanggungjawab begitu aja. Tuh para korban sapa yang mo kasih ganti rugi kalo udah ketiban pohon?









Foto-foto ini emang cuma sebagian saja dari semua spanduk parpol en caleg yang saya temui on the way ke kantor dari rumah. Saya tidak bermaksud mendiskreditkan kelompok atau orang tertentu. Lagian ga mungkin juga saya foto semua spanduk parpol, caleg, iklan yang numpang beken di pohon di seantero Semarang.

So bagi parpol en caleg yang fotonya saya pasang di blog ini jangan pada tersinggung. Tolong koreksi diri Anda sendiri dulu deh sebelum nuntut saya. Buatlah saya bersimpati untuk nyoblos Anda di Pemilu 2009. Kalo caranya kaya gini, gimana saya bisa mempercayakan suara saya pada Anda?

Buat temen2 blogger, ayo dong kita mulai make things better. Toh yang diuntungkan juga bukan orang lain tapi diri kita sendiri. Ga peduli sesibuk apapun, walo kita ga bisa langsung terjun berpartisipasi, at least, kita menjaga yang sudah ada. Jangan ngerusak.

Saya mendukung aksi penanaman pohon yang dilakukan banyak kelompok, instansi, perguruan tinggi, sekolah, dan sebagainya. Tapi kalo cuma nanem aja sih gampang. Lha ngerawatnya itu gimana?

[Read full post]
8:25 PM

Berpuasa, Harus Menghormati atau Minta Dihormati?

Posted by Eeda |

HAMPIR seminggu kita menjalankan ibadah puasa. Berita apa sih yang kita paling sering dengar menjelang dan selama Ramadan? Hmmm kl nggak harga kebutuhan pokok yang meroket, paling juga grebegan tempat hiburan (kl kaitannya sama narkoba sih saya setuju). Di beberapa kota, bahkan ada grebegan rumah makan yang tetap buka saat puasa (maksudnya siang hari).

Well, bukannya saya nggak setuju sama tindakan grebeg menggrebeg. Tapi entah mengapa, saya merasakan ada atmosfir ''keangkuhan'' di sini. Maksud saya begini, setahu saya, orang berpuasa itu selain dituntut untuk menekan hawa napsu, juga dituntut rendah hati. Rendah hati di sini, dalam persepsi saya, bisa dimaknai juga sebagai bersikap saling menghormati. Dan sebagai orang yang berpuasa, kita sebenarnya juga wajib menghormati orang yang tidak berpuasa (baik Muslim maupun Nonmuslim.
Pernah suatu kali waktu masih kuliah, saya jalan2 di mall bersama seorang teman yang kebetulan nonmuslim. Kebetulan hari itu adlh Ramadan. Sekitar jam 2 siang, saya merasakan temen saya itu rada2 gelisah. Saya tanya ''Kenapa loe? laper ya?'' Dengan sedikit malu (kali...) dia ngaku kalo laper berat. Ya ga heran sih, jam segitu emang kl hari normal (bukan Ramadan), saya juga pasti merasakan hal yang sama, dan pastilah saya udah kelimpungan cari sesuatu untuk mblebet perut.
Karena ga tega liat tampangnya yang sengsara itu, saya langsung mengajaknya ke food court. Saya persilahkan dia untuk pesen makanan. ''Lha lo gimana Da? lo kan puasa.Kl gue makan, kan ga enak sama elo.''.
Ya..walo emang cacing2 di perut saya udah berontak minta jatah preman, tp saya ga ingin berpuasanya saya malah membuat temen saya itu sengsara.
Akhirnya saya bilang ke dia ''Ya iya sih tp gw kan emang niatnya puasa, jadi kl belum magrib ya kaga boleh makan en minum. Elo kan kagak puasa. Nah kl gw ga ngebolehin elo makan en minum, gw salah dong.''
Trus temen saya itu bilang ''Kl gw makan di depan lo, gw berarti ga ngormatin elo dong.''
Akhirnya untuk mengakhiri perselisihan itu, saya langsung ngomong ''Elo bisa dibilang ga ngormatin gw kl lo nawarin gw makan. Selama lo ga nawarin, lo berarti masih ngormatin gw. Dan gw juga hrs ngormatin elo dong. Kan lo laper, masa gw cegah lo makan supaya lo juga merasakan lapernya gw. Kl gitu ceritanya, puasa gw juga ga afdol dong.'' Finally, saya tungguin dia makan di food court sambil baca-baca novel yang tadi baru saja kami beli di toko buku.
So, all I am saying is, sebagai orang yg berpuasa, kita juga wajib menghormati orang2 yang ga puasa. Ga perlu lah kita petentengan seolah-olah mau bilang ''Oii gue puasa. Hormati gw dong! Jangan makan siang2!, Jangan dugem kl malem karena kl malem gw taraweh!'' Karena inti dari puasa itu sendiri kan self control, termasuk bersikap rendah hati.
Jadi kalo menurut saya sih (ini pendapat pribadi saya lho), biarin aja sih rumah makan2 tetap buka siang hari (kan ya yang punya rumah makan itu juga cari rezeki. Kl emang mau tutup karena kesadaran sendiri sih monggo aja. Dan jangan lupa, teman2 kita yang ga puasa kan juga butuh makan kl siang hari), atau tempat hiburan tetep buka malem hari (Yang mau taraweh ya silahkan, yang nggak kan juga ga apa-apa. Masa kita mau mencegah orang cari hiburan. Itu kan hak asasi.)
So temen2 tersayang, mudah2an dengan Ramadan, kita bisa jadi better person, dengan tetap menghormati hak-hak orang lain.Puasa seharusnya membuat kita menjadi rendah hati dan lebih toleran pada orang lain.

[Read full post]

SUHU politik jelang pemilu 2009 makin panas? Well, mau tidak mau saya harus setuju. Pasalnya, saya yang termasuk kategori kuli pers yang jarang banget berurusan sama liputan politik juga kena imbas, sasaran kampanye hasutan via SMS. Begini ceritanya, bukan rahasia lagi baik perorangan maupun lembaga dengan mudah bisa mengakses no hp wtw dari media manapun, termasuk saya.

Dengan berbekal no hp wtw, si perseorangan atau lembaga tersebut biasanya mengabari kita baik via SMS maupun telp langsung bila punya suatu event yang dimintakan untuk diliput. (Ya walaupun kita juga milih2 sih mau ndatengin yg mana. Bayangin aja kl acara 17-an RW diladenin semua, korannya bakal penuh acara 17an, tanpa ada berita lain.)
Tapi ada juga LSM atau lembaga yang suka menyuarakan pendapat mereka ttg sesuatu hal (misalnya tentang kenaikan harga BBM atau penerimaan peserta didik) dengan mengirim SMS ke banyak wtw. Tentu saja mereka berharap SMS tersebut dipublikasikan. Atau setidaknya sebagai pancingan agar si WTW menelpon mereka untuk menanyakan detailnya dengan harapan dipublikasikan.
Untuk yang model begini, saya cukup hati2. Saya hanya akan merespon jika si pengirim sudah saya kenal secara personal dan saya sudah tau benar kredibilitasnya. Bagi mereka yang tidak saya kenal secara pribadi, ya maaf saja kl SMS-SMS panjenengan itu saya cuekin.
Nah kembali lagi ke permasalahan suhu politik yang meningkat, kemarin saya baru saja mendapatkan SMS dari lembaga yang mengaku pemerhati keadilan (Perked). Isi SMSnya seperti ini ''Semua mengaku mampu membuat kemajuan namun tanpa bukti nyata. Sampai saat ini SBY masih yang terbaik terlepas dari berbagai kekurangan yg pada hakekatnya disebabkan oleh kondisi yang tidak bersahabat PERKED (Pemerhati Keadilan)''. No Hp si pengirim adalah +628388252884 (sori no hp saya tulis, ntar dikira nulis boong).
Yang membuat saya terganggu adalah kok bisa-bisanya ada lembaga se''pendek'' itu pikirannya, mengirimkan SMS model begitu ke wtw. Apa mereka berharap kami akan mempubliksikan SMS itu ke publik atau SMS itu hanya sebagai imbauan semata agar pemilu depan mencoblos SBY?
Saya yakin ini bukan SMS kampanye resmi dari tim sukses SBY. Setau saya, kampanye model SMS masih digodog tata caranya. Saya ga habis pikir kok ada lembaga yang mempertaruhkan kredibilitasnya membela SBY sampai begitu rupa. Biasanya sih saya ga ambil pusing sama SMS model beginian tp kemarin saya bener2 gatel untuk membalas.

Akhirnya setelah rundingan dengan seorang teman, saya tulis SMS balasan yang isinya ''lha terlepasnya itu yang banyak tapi kok malah panjenengan abaikan. belajar adil dunk, karena adil itu objektif. Dari dulu kan SBY sudah tahu kondisi Indonesia. Emang dia bukan orang Indonesia?'' . Dan sayangnya (walaupun status SMS saya masuk ke hp dia), sampai tulisan ini diturunkan, saya belum dapat SMS balesannya.
So buat temen2 blogger, mudah2an bisa berhati-hati mengambil sikap jika sewaktu-waktu menerima SMS model kampanye begituan.

Coba deh simak kalimatnya. Kesannya kan mengiba2iba pada masyarakat agar memberikan permaafan pada SBY yang sebenarnya telah gagal menjalankan tugasnya sebagai presiden. Inilah akibatnya kalau kita memilih penguasa dan bukannya pemimpin. Seorang pemimpin sejati akan dengan ksatria mengakui kekhilafannya jika yang bersangkutan gagal mengemban amanatnya, dan bukannya minta permakluman karena tidak berhasil membawa warganya keluar dari kesengsaraan.

Pemilu ke depan sangat menentukan arah pembangunan bangsa bukanlah ungkapan basa basi. Pasalnya, salah memilih calon wakil rakyat, pemimpin, akibatnya akan fatal. Ga salah kok kl mo coblosan shalat istikharah dulu. Mungkin Allah akan kasih pentunjuk dan melepaskan bangsa ini dari penderitaan. Amin.


[Read full post]
6:14 PM

Tan Malaka, Dilupakan dan Terbuang....

Posted by Eeda |

SEMARANG- Membaca laporan tentang Tan Malaka di Tempo
untuk edisi kemerdekaan sangat menggelitik saya untuk mengecek isi buku sejarah/IPS SD-SMA ke toko buku. Halaman per halaman saya buka, mencari kontent yang berhubungan dengan proklamasi dan sosok para pahlawan. Sayapun coba mengingat-ingat isi buku sejarah yang saya gunakan di sekolah dulu. Benar saja dugaan saya, Tan Malaka hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tersebut.

Saya hanya menemukan tulisan tentang Tan Malaka di salah satu buku SMP. Itupun sebenarnya fokusnya bukan tentang Tan Malaka, namun menceritakan tentang romusha. Di situ diceritakan bahwa romusha terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di Bayah Banten. Dan di buku SMP yang saya baca itu, Tan Malaka hanya disebut sebagai seorang tokoh yang pernah bersembunyi di sana, menyamar sebagai juru tulis dengan nama samaran Ilyas Hussein.
Penulisan dengan gaya sambil lalu itu mengesankan perjuangan pemilik nama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka itu cuma ecek-ecek dan tidak penting untuk dibahas. Tidak sebanding dengan heroisme Soekarno-Hatta.
Padahal kalau kita kaji lebih dalam, seluruh hidup Tan hanya dipersembahkan untuk kemerdekaan bangsa ini. Ia bahkan rela tidak menikah dan meneruskan keturunannya karena harus berjuang melawan imperialisme penjajah. Para wanita yang ditaksir Tan mungkin berpikir ''Bagaimana masa depan saya nanti kalau bersuamikan orang seperti dia?'' Menurut catatan, Tan pernah ditolak cintanya 2 kali oleh orang yang sama. Alasan si wanita itu menolak Tan karena menganggapnya sebagai orang aneh. 20 tahun ia habiskan kucing-kucingan, lari dari 1 negara ke negara lain menghindari tentara Jepang,Belanda,Amerika yang sangat bernapsu membungkam Tan yang notabene saat itu sangat getol menyuarakan kemerdekaan.
Jasa Tan bagi negara ini hampir tak diketahui oleh genarasi sekarang. Tidak sepenuhnya salah mereka. Karena ya itu tadi, Tan hampir tak pernah disebut-sebut di buku sejarah. Dan seperti kita ketahui bersama, seorang anak mengenal sejarah pada awalnya kan dari bangku sekolah.
Kalau diceritakan dengan cara sambil lalu seperti itu atau bahkan tak disebut sama sekali, bagaimana anak bisa mengenal sang tokoh? wong yang sudah jelas-jelas diprofilkan secara khusus di buku-buku sejarah, belum tentu diingat, apalagi yang tidak.
Lantas siapa yang salah? Guru memang tidak bisa berbuat banyak karena ia hanya menjalankan apa yang sudah ada dalam kurikulum. Pressure untuk membimbing anak agar mendapatkan nilai baik dalam ujian nasional yang notabene tujuan akhir dari pendidikan di suatu jenjang menempatkan sejarah di nomor urut sepatu dalam skala prioritas, pelajaran-pelajaran mana saja yang dianggap penting untuk didalami agar lulus UN.
Singkatnya, pelajaran sejarah saat ini cenderung diremehkan dan dianggap kurang penting dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain seperti sains. Orangtua akan bangga jika anaknya memeroleh nilai 9 dalam Matematika. Kalau nilai sejarahnya bagus, sambutannya paling juga cuma adem-ayem. Jadinya, guru kurang bisa mematik rasa ingin tahu siswa terhadap pelajaran itu. Setidaknya mendorong agar terjadi diskusi di dalam kelas terkait behind the scene peristiwa sejarah. Misalnya tentang proklamasi. Di buku diceritakan bahwa yang memproklamirkan kemerdekaan RI adalah Soekarno-Hatta. Padahal seperti kita ketahui, sebelum itu, keduanya harus diculik dulu oleh Sukardi dkk agar mau memproklamirkan kemerdekaan RI. Jika si guru cukup pintar, harusnya itu bisa digunakan sebagai pematik untuk menggugah keingintahuan siswa, mengapa Soekarno-Hatta harus diculik dulu supaya mau memproklamirkan kemerdekaan? lha kalau tidak diculik oleh Sukarni Dkk, akankah kita bisa resmi merdeka pada 17-8-1945? Kenapa kedua tokoh itu waktu itu masih indrang-indring memproklamirkan kemerdekaan dan masih mau rundingan dulu dengan Jepang.
Adalah Tan Malaka yang mengkritik dan menentang rencana acara runding-rundingan itu. ''Kemerdekaan kok kolaborasi.'' Begitu kata Tan. Bagi dia, kemerdekaan itu harus sepenuhnya dan tanpa syarat (absolute.
Gregetan rasanya mengetahui bahwa jasa orang besar ini dilupakan oleh bangsa yang dibelanya. Itu baru Tan. Masih ada tokoh lain yang dianggap sepi oleh bangsa ini padahal sumangsihnya untuk bangsa ini sangan besar. M Natsir misalnya. Isi pidato-pidato Soekarno yang hebat itu ternyata yang mengkonsep adalah M Natsir, pendiri Partai Masyumi. Soekarno yang kita agung-agungkan itu ternyata menggunakan buku-buku Tan seperti Madilog ,Massa Actie sebagai panduan dalam pergerakannya.
Tahukah anak-anak sekolah kalau lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman yang dikumandangkan dalam setiap upacara syairnya terinspirasi oleh buku Massa Actie karya Tan. WR Soepratman pada saat itu mengatakan, ia telah membaca buku Massa Actie, dan syair ''Indonenesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku'' dikutipnya dari sepenggal alinea yang ada di buku itu.
Ironis kalau anak bangsa ini sampai tidak tahu sejarah pahlawannya sendiri. Apakah mereka mungkin tak peduli lagi dan membuang semua momentum sejarah ke tempat sampah? seperti pemerintah yang tidak mau repot-repot melakukan tes DNA terkait penemuan dugaan makam Tan yang ditemukan penulis buku biografi Tan, Harry Poeze asal Belanda, di Kediri?
Hal itu menujukkan ketidakpedulian anak bangsa terhadap jasa para pahlawannya. Harusnya pemerintah bergerak cepat merespon permintaan Harry Poeze untuk melakukan tes DNA pada makam tersebut. (Bandingkan dengan kesigapan polisi melakukan tes DNA pada korban dan keluarga korban si jagal dari Jombang, Ryan. Padahal Ryan itu bukanlah siapa-siapa selain pembunuh kejam yang tak berperikemanusiaan). Toh pemerintah tak perlu repot-repot melacak keluarga Tan. Poeze sudah menemukannya dan yang bersangkutan siap di tes DNA. Seorang teman pernah bilang pada saya, kalau jasad yang ditemukan itu benar-benar jasad Tan, harus secepatnya dipindahkan ke taman makam pahlawan dengan upacara kenegaraan yang irupnya adalah Presiden RI. Saya kira hal itu tidak berlebihan, bahkan terlalu kecil jika dibandingkan dengan jasa-jasa Tan yang begitu besar bagi negara ini. Apa karena dia orang ''kiri'', lantas ia dianggap tabu untuk dihormati? Jangan menghakimi orang dari ''kanan'' dan ''kiri''nya semata. Walaupun ''kiri'' namun apa yang Tan lakukan seumur hidupnya hanya demi kemerdekaan dan kejayaan bangsa. Bandingkan dengan oknum-oknum yang mengaku ''anti kiri''/''nonkiri'',''kanan'' namun kerjanya memfitnah orang, memecah belah persatuan, merampas kemerdekaan orang dengan memenjarakan siapa saja yang beda pendapat darinya atau dianggap mengancam kekuasaannya,atau makan duit rakyat tanpa rasa berdosa.
Menurut saya, harus ada revolusi pendidikan di negara ini agar semua anak Indonesia tahu akar sejarah bangsanya. Percuma saja kita mencetak anak-anak yang pandai secara akademis namun tak mengenal siapa pahlawannya dan sejarah bangsanya. Tadi pagi (17/8) saya menonton salah satu acara infotainment. Walaupun disajikan secara ringan, namun cukup menggelitik tapi membuat gemas. Apa pasal, para artis muda disuguhi sederet pertanyaan tentang kemerdekaan dan nasionalisme. Sungguh ironis, mereka yang dipuja karena cantik dan ganteng dan karena keartisan mereka tentunya, namun tidak tahu berapa usia kemerdekaan (padahal mereka bersekolah). Ada yang menjawab ke-400, 200, sungguh ngaco! Ada juga yang mletat mletot saat ditanya arti bhineka tunggal ika. Benar-benar memalukan. Yah...jangan berharap bangsa ini jadi besar wong warganya saja tak tahu sejarah bangsanya dan mengenal para pahlawannya.
Coba tanya anak sekolah sekarang, lebih hafal disuruh nyebutin profil artis sinetron kesayangan dari pada para pendiri bangsa ini. Sungguh tragis...

[Read full post]
4:28 PM

Rasa Malu dan Ketika Persatuan Dipertaruhkan

Posted by Eeda |

SEMARANG- Katanya, bangsa yang besar itu adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya. Kalau ungkapan ini benar adanya, maka jangan heran kalau Indonesia tertindas melulu alias ga bisa jadi besar. Jangankan sama para pahlawan yang sudah meninggal dunia. Wong yang masih hidup saja tidak diajeni kok. Mau bukti? Tengok saja nasib para veteran yang berjuang merebut kemerdekaan. Adakah para pemimpin negeri ini peduli dengan nasib mereka?Padahal kalau mau dirunut kebelakang, mereka tidak mungkin akan menduduki empuknya singgasana kalau para veteran itu tidak berjuang merebut kemerekaan.

Uang pensiun yang mereka terima cuma Rp 600 ribu- Rp 800 ribu. Tragis! Padahal pengorbanan yang sudah mereka berikan untuk negeri ini tidak bisa disetarakan dengan uang sebesar apapun. Saya tahu mereka tak menghadapkan balas budi karena apa yang mereka lakukan dulu didasarkan niat tulus demi kemerdekaan negeri tercinta. Tapi kita dan para pemimpin inilah yang harus tahu diri memberi reward yang pantas bagi mereka agar bisa hidup layak. Ironis sekali melihat kehidupan mereka yang sangat jauh dari mapan. Sedangkan kita dan para pemimpin ini sekarang ini bisa hidup enak karena perjuangan mereka. We should be ashamed of ourselves. Padahal notabene, kita belum bisa memberikan apa-apa bagi negara ini.
Pada 16 Agustus lalu, saya menonton tayangan di Jtv yang menayangkan acara bincang-bincang dengan para veteran. Ada rasa malu terbersit di hati saya, dan para pemuda lain yang masih sedikit punya hati yang menonton acara tersebut, pastinya juga akan malu. Para veteran itu menceritakan bagaimana ada rasa malu pada saat itu jika kawan-kawan lain ikut berjuang, sedangkan ia sendiri tak ikut berjuang. Sudahkah kita memiliki rasa malu ketika menyadari bahwa kita belum menyumbangkan apapun demi negeri ini?
Mereka juga mengungkapkan keprihatinannya dengan generasi muda saat ini yang ''menghiasi'' kemerdekaan dengan tawuran, perkelahian antar kampung/desa, dan berbagai hal negatif lainnya. Padahal, persatuan yang diperjuangkan oleh para veteran demi negara ini harus dibayar dengan harta dan nyawa.
Pelajaran penting yang saya tangkap adalah betapa pentingnya persatuan untuk mencapai tujuan. Dulu, para pemuda bersatu untuk satu tujuan yakni KEMERDEKAAN! Dan mereka berhasil. Sekarang, bagaimana kita mau berhasil jika kita tidak bisa bersatu? berselisih paham sedikit saja sudah main bacok. Anak-anak sekolah saling tawur cuma gara-gara rebutan cewek/cowok. Benar-benar Memalukan...Nggak kelas banget gitu loh!
Para pemimpin juga tidak memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Beda pandangan politik bukan beratri tidak lagi bertegur sapa kan? Wapres Jusuf Kalla sendiri pernah bilang pada saat Seminar Refleksi Seabad M Natsir di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (15/7/2008)bahwa para presiden yang pernah memimpin negeri ini tidak lagi saling bicara. Soekarno nggak ngomong lagi sama Soeharto, Soeharto nggak ngomong lagi sama Habibie, dan begitu seterusnya. Menurut saya, keadaan itu benar-benar memalukan.
Beda pendapat atau ideologi sah-sah saja kok. Kalau semua orang sama, ya betapa boringnya negeri ini tapi hal itu jangan sampai mencampuri urusan pribadi dong. Nggak dewasa banget! Kayaknya, kita semua perlu belajar dari politikus Zaman orla deh. Di gedung DPR, mereka perang ideologi tapi di luar itu, mereka berhubungan dengan akrab. Moh Natsir yang Islam banget bahkan tidak canggung nunut/menumpang sepeda Ketua PKI DN Aidit untuk mengantarkannya pulang.
Natsir pun tak keberatan nyruput kopi traktiran Aidit. Padahal di parlemen, mereka berdebat sangat sengit.
Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari fakta tersebut. Yang jelek ya jangan dicontoh dong, kita kan punya kapasitas untuk memfilter mana yang baik dan mana yang baik. Kalau pemimpin kita sekarang ini kasih contoh yang buruk, ya biarkan saja itu dosa mereka dan mereka yang tanggung sendiri. Kita jangan ikut-ikutan lah, ga keren banget. Hari gini kok musuhan.

[Read full post]
5:20 PM

Mengurai Keruwetan Pendidikan di Indonesia

Posted by Eeda |

Biasanya saya hanya menulis berita dengan catatan tidak boleh menyisipkan opini pribadi. Field of reporting saya adalah masalah pendidikan. Dan kali ini saya mencoba mengutarakan uneg-uneg saya atas temuan-temuan di lapangan, begitu juga hasil wawancara dengan sejumlah pihak. Bertemu dengan banyak orang dari masyarakat biasa, pejabat sampai pakar, telah membukakan mata saya betapa ruwetnya problematika pendidikan di Indonesia.Para petinggi negeri ini walau kelihatannya menaruh perhatian pada pendidikan dengan dianggarkannya 20% dari APBN/D untuk pendidikan, namun sampai sekarang keadaan pendidikan belum bisa dikatakan memuaskan. Menurut saya, permasalahan tidak serta merta selesai hanya dengan menaikkan anggaran.

Uang banyak kalau tidak bisa memanage juga akan percuma. Apasih sebenarnya outcome dari pendidikan? menciptakan sarjana sebanyak-banyaknya ? Tentu saja tidak. Yang jelas, pendidikan tak akan ada artinya jika tidak bisa mengurangi pengangguran. Imbauan pemerintah bagi anak bangsa untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, sayangnya tidak dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja.
Saya sangat setuju dengan pendapat salah satu pakar pendidikan di Semarang yang mengatakan bahwa seharusnya Depdiknas berkoordinasi dengan departemen-departemen lain, untuk mengatasi masalah tersebut. Logikanya, jika ada komunikasi yang apik antar mereka, maka akan terpetakan tenaga kerja seperti apa yang dibutuhkan Indonesia 5,10, atau 20 mendatang.
Dengan begitu, sekolah dan perguruan tinggi dapat mempersiapkan siswa/mahasiswanya untuk mengisi posisi tersebut dan tidak perlu lagi merekrut tenaga asing yang katanya lebih qualified.
Dan jika itu juga sudah diplanning dan terpetakan maka lebih menghemat tenaga perguruan-perguruan tinggi dalam membuka program studi. Mudah-mudahan tidak akan ada lagi perguruan tinggi yang tutup warung karena kurang peminat.
Saya setuju dengan program pemerintah untuk memperbanyak rasio SMK dan SMK menjadi 60:40 atau 70:30. Lulusan SMK yang secara skill lebih terlatih daripada lulusan SMA diharapkan dapat langsung cepat memeroleh pekerjaan. Namun ya itu, pemerintah juga harus sembodo menyiapkan lapangan pekerjaanya.
Namun tidak bijaksana juga jika lulusan sekolah/PT hanya disiapkan untuk menjadi pegawai. Di lembaga pendidikan juga harus diajarkan mengenai kewirausahaan dan life skill supaya mereka juga bisa survive di dunia nyata. Singkatnya kedua hal itu harus diajarkan sejak dini, dari SD atau bahkan mungkin TK. Karena itulah ada baiknya Depdiknas menjadi fasilitator antara lembaga pendidikan dan bank untuk bisa menyediakan pinjaman lunak sebagai modal usaha.
Apa yang saya tulis ini masih berupa general analysist. Masih banyak sebenarnya uneg-uneg saya terkait keruwetan pendidikan di Indonesia. Dari UN, PPD, sampai metode pembelajaran.

[Read full post]
Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe