SEMARANG- Masih segar dalam ingatan kita ketika kesenian Reog Ponorogo ''dicuri'' Malaysia. Hampir semua elemen Bangsa Indonesia mengecam tindakan itu. Padahal sebelum kejadian itu, hanya segelintir orang yang peduli akan kelestarian seni dan budaya. Yang menjadi pertanyaan adalah, bisakah kita merebut kembali kesenian atau budaya yang sudah diklaim oleh negara lain ?
''Itu sulit karena Indonesia tidak punya badan seperti di India (National Biodiversity Authority dan Traditional Knowledge Digital Library) yang mencatat semua jenis budaya, karya seni. Ada bukti otentik serta kajian ilmiahnya dan berkekuatan hukum,'' kata dosen FH Undip yang juga bergelut mengurusi Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), Dr Budi Santoso SH MS saat menjadi pembicara pada Seminar Budaya ''Pencurian Kebudayaan Bangsa, Budaya Indonesia, Milik Siapa? di Perpustakaan FISIP Undip Pleburan Kamis sore (18/9). Jadi, begitu kebudayaan India diklaim oleh bangsa lain, sambung dia, bisa direbut kembali dengan membeberkan fakta ilmiah tersebut.
Indonesia, kata dia, harusnya membuat badan National Folkore Authority. Ia yakin itu bisa dilakukan jika ada good will dari pemerintah. ''Kan bisa saja Mendagri memberi sejumlah anggaran dan kemudian memerintahkan para kepala daerah untuk mengidentifikasi/mengiventarisir semua kebudayaan, seni yang ada di sana.'' Diakuinya, Indonesia lemah pada soal pencatatan, pengarsipan, dan pendokumentasian budaya.
Pada acara yang diprakarsai oleh HMJ Ilmu Komunikasi FISIP Undip dan Kelompok Studi Bahasa Asing FH Undip itu, Budi menjelaskan, sebenarnya saat ini, sudah ada peraturan di mana negara asing yang mau mementaskan kesenian suatu negara untuk acara komersial harus membayar sejumlah royalti. Namun sayang, kata Budi, komunitas kesenian tidak bisa menikmatinya, padahal mereka yang berhak. Dicontohkannya kesenian Reog yang di pentaskan di luar negeri untuk acara komersial, kemudian penyelenggaramya membayar sejumlah uang royalti pada Pemerintah Indonesia. Namun uang royalti itu tidak bisa dinikmati oleh komunitas Reog di tempat asalnya.
Pembicara lain, Dekan FS Undip Prof Dr Nurdien H Kistanto MA mengungkapkan bahwa mencintai, menyadari, dan menghargai karya bangsa sendiri tidaklah cukup kalau tidak dijaga. Senada dengan Budi, ia juga menekankan pada peningkatan kesadaran hukum dan pentingnya identifikasi kekayaan hasil karya bangsa. Namun demikian, Nurdien juga mengkritik perilaku bangsa kita yang sangat emosional saat mengetahui kebudayaannya ''dicuri'' bangsa lain namun tidak malu mengenakan produk palsu. Misalnya, tandas dia, celana jeans palsu merek Levis/Lea yang dibeli di Cibaduyut. Atau tas palsu bermerek yang dijual di Tanggulangin.
Karena itulah Nurdien mengajak masyarakat untuk sadar bahwa kebudayaan kita sekarang tidak semata-mata milik bangsa kita, melainkan juga ''milik bangsa-bangsa di dunia.'' Budi juga mengungkapkan hal serupa. Menurut dia, kepemilikan suatu kebudayaan tidak bisa dikotak-kotakkan dalam batasan geografi. Misalnya masyarakat di sebagian Sumatra dan sebagian Malaysia yang berkebudayaan melayu. (H11-)
PS: Buat Mbak Hellen, makasih awardnya...nih udah aku pasang...Thx A lot
SEMARANG-Perhatian yang serius terhadap potensi, minat bakat dan perkembangan karakter seseorang adalah sebuah landasan membangun pribadi yang tangguh dan berprestasi. Hal tersebut secara tersirat terkandung dalam misi Yayasan Pendidikan Nasional (YPN)Karangturi. Selain bidang akademik, Sekolah Nasional Karangturi di bawah naungan YPN Karangturi turut pula memberikan perhatian dalam bidang nonakademik khususnya minat dan bakat. Hal itu diungkapkan Humas YPN Karangturi Beantari Budiman (25/8).
Buah dari perhatian yang serius tersebut, sambungnya, adalah berbagai prestasi (akademik maupun nonakademik) yang berhasil diraih oleh Sekolah Nasional Karangturi. ''Salah satunya adalah prestasi dalam bidang seni paduan suara.''
Ditambahkannya, prestasi paduan suara Sekolah Nasional Karangturi tidak hanya tingkat lokal dan nasional tetapi juga internasional. Untuk tingkat nasional, sekolah Karangturi (SMP dan SMA) beberapa kali berhasil meraih medali emas dan perak dalam festival paduan suara (FPS) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) setiap dua tahun sekali.
Disamping itu, kata dia, paduan suara yang dilatih oleh Petrus Wahyu dan diiringi oleh pianis Inu Harimurti itu beberapa waktu lalu berhasil meraih medali perak pada International Choral Festival di Pattaya, Thailand.
''Tidak hanya itu, paduan suara kami juga sudah beberapa kali tampil di hadapan Presiden SBY serta berkolaborasi dengan Kwartet Punakawan pimpinan Jaya Suprana.''
Kepala Sekolah SMA Karangturi Drs Irawan Nirwanto menjelaskan, prestasi yang luar biasa ini tentu saja menuntut berbagai konsekuensi. Di antaranya konsekuensi untuk mempertahankan reputasi serta kebanggaan yang sudah diraih dengan sebuah proses yang panjang dan konsisten. Pada Prakonser “Karangturi Goes to ITB”, Sabtu (23/8), Irawan menambahkan, jam pelajaran yang digunakan untuk proses latihan selama kurang lebih tiga bulan diganti dengan jam pelajaran tambahan setiap Sabtu.
Acara FPS Tingkat Nasional Institut Teknologi Bandung XXI sendiri akan dilaksanakan pada 25-31 Agustus 2008. Perhatian pihak Yayasan Sekolah Karangturi untuk event ini juga tidak setengah-setengah. Dewan Pengurus Harian YPN Karangturi, Harjanto Halim MSc yang ditemui pada acara prakonser itu mengungkapkan, perhatian yang besar itu merupakan wujud kepedulian akan kemajuan, reputasi, dan kebanggaan Sekolah Karangturi.
Adapun prakonser menampilkan paduan suara SD (Gracia Choir), SMP (Karangturi Choir), dann SMA Karangturi (Melodus Choir) dengan paduan suara tamu yakni Satya Dharma Gita dari FH Undip. Masing-masing kelompok paduan suara menyanyikan tiga buah lagu yang juga akan dinyanyikan dalam FPS di ITB. (H11-)
SEMARANG-Pascakolonial, yang masih menempel pada rakyat Indonesia adalah mental rendah diri yang tentu saja harus dihilangkan. Begitu juga sikap saling menyalahkan. ''Itulah sebenarnya dimanfaatkan oleh penjajah Belanda.'' Hal itu diungkapkan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komarudin Hidayat saat menjadi pembicara pada Sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Luhur Budaya Indonesia dalam Rangka Peningkatan Ahlak Mulia di Pendidikan Tinggi di Auditorium Kampus Unnes Sekaran Gunungpati (23/8).
Kampus, sambung dia, harus menghilangkan mental seperti itu. ''Kalau kita masih minder, suka marah, melawan terus, kapan bisa melakukan riset dan membangun institusi.''
Lantas apakah saat ini negara berada dalam titik nadir? Dengan tenang, Komarudin menjawab, kalaupun memang berada di titik nadir, anggap saja sebagai metamorfosa. Hal penting yang harus disadari bahwa masyarakat Indonesia ini mewarisi budaya hibrida. Artinya terdiri dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, dan sebagainya. Namun sayangnya, tandas dia, kita kurang cepat melingkari kultur budaya hibrida tersebut.
Pada acara yang dihadiri oleh civitas akademia Unnes dan perwakilan BEM beberapa perguruan tinggi itu, Komarudin juga menyinggung kurang diperkuatnya angkatan laut kita. Padahal, Indonesia adalah negara maritim/kepulauan. ''Tapi yang kuat di Indonesia malah angkatan daratnya. Kalau angkatan laut kita kuat, musuh nggak akan masuk. Pulau-pulau terpencil akan aman.''
Komarudin yakin, jika coastal culture dibangun, bidang pertanian, perikanan pasti akan maju. Pembenahan juga harus dilakukan pada high trust society dan akhlak. ''Tidak cukup hanya membina akhlak individu namun tidak struktural. Misalnya untuk kasus korupsi, ya harus diselesaikan secara horisontal, bukan dengan cara pergi umroh atau haji.''
Pada dialog yang dimoderatori oleh Dekan FE Unnes Drs Agus Wahyudin MSi, Sekretaris Jendral (Sekjen) Depdiknas RI Prof Dr Ir Dodi Nandika MS tidak memungkiri dalam perjalanan bangsa Indonesia, ada sisi gelap dan terang. Menurut dia, tugas akademisilah yang harus menyuarakan kebenaran (tell the truth) dan melakukan perubahan (change). ''Yang jelas, kita harus berani reach beyond the wall. Jangan cuma jago kampus. Misalnya, memberantas buta aksara, memecahkan masalah sampah dan lain sebagainya.''
Rektor Unnes Prof Dr Sudijono Sastroatmodjo MSi pada kesempatan itu mengungkapkan keprihatinannya terkait perkembangan dunia pendidikan. ''Kalau dulu, ketundungan anak pada orangtua sangat dipegang, kemudian bergeser pada guru, namun sekarang anak-anak tunduk sama televisi.'' Ditegaskannya, perlu ada good will dari penguasa untuk tetap berpegang pada komitmen. ''Kalau dilakukan sepotong-sepotong tanpa ada gerakan massa yang tersistem ya nantinya cuma
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr Mudjib Rohmat menilai pentingnya dibuatkan blue print terkait pembinaan mahasiswa secara nasional. Dikatakannya, saat ini anggaran untuk pembinaan mahasiswa memang sedikit yakni Rp 30-40 miliar karena tidak ada direktur yang mengurusi hal itu. Karena itulah ia mendorong peningkatan pembinaan mahasiswa mumpung anggaran pendidikan dari APBN sudah dinaikkan. Terkait hal itu, sambung dia, peningkatan anggaran juga akan digunakan untuk peningkatan mutu guru dan perguruan tinggi, terutama PTS. Pasalnya jumlah PTS di Indonesia mencapai 2.700 sedangkan PTN 82. (H11-)