eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

6:13 PM

Jazz, antara Apresiasi dan Rasa

Posted by Eeda |

SEBENARNYA saya mau menuangkan hal ini dalam format berita yang biasanya saya buat. Tp kali ini kok rasanya pengen nuangin uneg2 dalam bentuk yang lebih santai. Gini ceritanya, belum lama ini saya memenuhi undangan dari Undip untuk jumpers bersama Idang Rasjidi dalam rangka acara Medco Green Energy campus di salah satu hotel di Semarang.

Kali ini yang mau saya ceritakan bukan tentang performance Idang di atas panggung, tapi hal-hal yang beliau ceritakan mengenai perkembangan jazz, musisi2 jazz, dan sebagainya. Menurut beliau, jazz adalah jenis musik yang paling revolusioner di muka bumi. Alasannya, jazz itu bisa digeret ke berbagai jenis musik. Kita mungkin sudah cukup familiar dengan aliran jazz pop,funk,soul,hip hop,swing, dan sebagainya.
Dan karena itulah musik jazz itu sifatnya personal banget.
Dia mengakui kl tertambahan musisi jazz tidak seperti musisi jenis lain. ''Kalau musik pop mungkin bisa menghasilkan 5 bintang baru dalam 1 thn, namun kl bintang musisi berbanding kebalik. 1 bintang dalam 5 tahun.''
Walo begitu, ia mengaku cukup puas dengan perkembangan jazz di Indonesia. Di beberapa kota sudah ada komunitas jazz. Dan FYI, Semarang punya komunitas yang namanya Semarang Jazz Community. Apalagi mereka sll rutin menggelar pertunjukan2 jazz.
O iya, Mas Idang juga concern dalam mengangkat bibit-bibit baru jazz. Salah satu caranya adalah dengan menggandeng mereka untuk perform di setiap pertunjukannya. Saya juga baru tahu kalau ternyata Tompi dan Glenn Fredly itu yang mengorbitkan Mas Idang. Pada awal karir mereka dulu, Mas Idanglah yang ngajak keduanya tour ke berbagai tempat. ''Saya kemudian bilang sama Chris Kayhatu alm, 'Ini anak (Glenn) sangat potensial dan berbakat'.'' Dan karena itulah, kata Mas Idang, si Glenn diajak bergabung di funk section (masih inget kan ?) Dan begitu dia going solo, ternyata perkembangannya sangat pesat.
Idang merasa bertanggung jawab untuk terus melakukan regenerasi musisi jazz. Maka dari itu pada pertunjukan malam itu di lap basket Fisip Undip, ia menggandeng penyanyi baru Mathew. Menurut dia, cara itu cukup ampuh mengingat kl langsung menawarkan ke label rekaman, antriannya panjang. ''Saya adalah orang yang selalu mengatakan Go Indie Label.''
Ketika ditanya tanggapannya tentang banyaknya band bermunculan saat ini dan lantas di mana posisi musisi jazz, yang bersangkutan dengan santai menjawab bahwa sekarang ini kita harus terbuka dan saling bicara jujur.Lho?
Jadi begini,band-band yang labelnya mengklaim albumnya terjual ratusan ribu copy hrs bicara jujur.Apa ya benar segitu yg terjual? trus di infotainment gambar gembor konser di luar negeri yg nonton bejibun, apa ya bener faktanya begitu. ''Iya sih mereka konser di sana, ngakunya yg nonton ribuan, pdhal aslinya ga segitu. Yg nonton juga orang indonesia semua. Ada juga yg ngaku konser di AS tp yg nonton juga mahasiswa Indonesia. Konser di malaysia,hong kong tp yg nonton para TKI.''
Maka dari itulah Mas Idang mengatakan ketika diminta tanggapannya atas majunya musik Indonesia saat ini oleh seorang tokoh musik yang mengurusi dunia rekaman di Indonesia (inisial DW, ayah vokalis band ''B''), hanya menjawab ''Iya sih maju tp 5 kilo dari Indonesia ga ada yg tahu.''
Pada pertemuan tersebut, Mas Idang menceritakan pengalamannya saat mengikuti sebuah festival jazz di Belanda. Ia datang bersama Bubi Chen (tau dong sapa Bubi Chen). Saat itu, Om Bubi sedang di kamar hotel dan Mas Idang sedang berada di kota lain, bertemu dengan musisi2 jazz ternama dari seluruh dunia. Ia kemudian didekati oleh salah satu musisi jazz ternama (saya lupa nama musisi jazz yg disebutkan mas Idang, pokoknya bukan musisi jazz indonesia dan yg bersangkutan reputasinya udah kelas dunia)dan menanyakan apakah benar Bubi Chen ada di Belanda. Idang mengiyakan dan si musisi jazz asing itu langsung maksa Idang untuk mempertemukannya dengan Bubi Chen. Yang bersangkutan sampe pesen sama Mas Idang , pokoknya kl ketemu Bubi Chen minta dipoto bareng.
Singkat cerita, MAs Idang dan musisi tersebut menyambangi Om Bubi di kamar hotelnya. Begitu Mas Idang bilang sama Om Bubi kalau si musisi tsb mau ketemu Om Bubi, malah dia yg kelabakan dan minta mas Idang untuk mengambil fotonya nanti dengan yang bersangkutan.
Saat keduanya bertemu di lobi, si musisi asing itu langsung heboh nyalami Bubi Chen sambil mengungkapkan bahwa suatu kehormatan bisa bertemu Bubi Chen...Oalah...ternyata Om Bubi adalah pemain piano fave dia dan ybs menganggap Bubi itu one of the best piano player on earth. Mas Idang bercerita kl gara2 sambutan si musisi asing yang heboh itu,Om Bubi malah bingung sendiri sampe bilang ''Iki sing gendheng aku opo de'e sih.''
So readers, emang sih perkembangan industri musik jazz Indonesia (inget lho, INDUSTRI) mungkin tidak seheboh jenis musik lain tp kita boleh bangga bahwa eksistensi para musisi jazz Indonesia ternyata mendapat pengakuan internasional alias TIDAK JAGO KANDANG.
Mas Idang sempet bilang kl poster2 dia di Indonesia saben ada pertunjukan jazz tidak lebih besar dari kanvas lukisan yang ada di hotel. ''Poster saya di pasang gede-gede malah kalau di luar negeri.''
So, what I'm trying to say is...Go Jazz! dan buat musisi aliran lain, Ayo dong majukan musik Indonesia,jgn cm bisa jago kandang aja. HIDUP MUSIK INDONESIA!

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe