eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

5:10 PM

Cacat Fisik Bukan Halangan untuk Ceria

Posted by Eeda |



KECERIAAN adalah milik semua anak terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Hal itulah yang terlihat di Wisma Hydrocephalus Jl Sanggung Barat 3B saat staf Hotel Ciputra mengunjungi mereka dalam rangka Hari Anak Nasional (24/7). Kecacatan fisik seolah tidak mereka hiraukan. Puluhan anak tetap bersemangat bernyanyi bersama dan mendengarkan cerita yang dibacakan Public Relation Officer Hotel Ciputra Nuki Damayanti .

Tempat yang dikelola oleh desainer kondang Anne Avantie itu ternyata tidak hanya menerima penderita hydrocephalus. Ada juga penderita kelamin ganda, bibir sumbing, anak yang tak memiliki anus, dan sebagainya. Asbar misalnya, pergelangan kaki kiri ke bawah tidak tumbuh sempurna. Namun ia tetap ceria seperti anak-anak normal lain. Ketika salah satu pengelola wisma, Margaretha memintanya nyanyi di hadapan kawan-kawannya, Asbar tetap PD walau berjalan pincang. Usai menyanyi, ia sempat berpesan ''Mama Etha jangan lupa kakiku ya.'' Margaretha dan Anne Avantie langsung menjawab permintaan bocah kelas 1 SD itu. ''Sabar ya, nanti kita buatkan kaki palsu buat Asbar, tapi diukur dulu biar pas.''
Ada juga Slamet Mulyati. Warga Purwodadi itu menderita labio palato berat. Jika dilihat secara seksama, wajah Mulyati terlihat berlubang karena memang ada lubang besar diantara mulut dan hidung kanannyanya. Akibatnya ia mengalami kesulitan saat berbicara. Bagian wajah yang lain seperti mata juga tidak tumbuh sempurna. Namun demikian ia tetap ceria, menikmati acara hari itu.
Kendati sudah dioperasi, namun tidak semua penderita hydrocephalus serta merta memeroleh ukuran kepala yang normal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu misalnya tengkorak kepala yang sudah terlanjur membesar walaupun kelebihan cairan sudah disedot dengan cara dioperasi. Kendati demikian, anak-anak itu sepertinya lupa akan deritanya. Iklas (2) misalnya, pasien hydrocephalus yang dioperasi saat masih bayi juga terlihat ceria, mondar mandir ke penjuru ruangan.
Jangan dibayangkan ia mondar mandir berlarian dengan kakinya. Memang, kaki Iklas tumbuh normal, tidak seperti Asbar. Namun beban berat kepalanya membuat ia agak kesusahan untuk berdiri dalam waktu lama. Ia bisa bergerak ke penjuru ruangan dengan duduk kemudian menyeret dirinya dengan mengerahkan tenaga pada bagian bokong dan kaki. Keadaan Iklas bisa dibilang lumayan dibandingkan teman-teman sependeritaanya yang hanya bisa tiduran.
Anne Avantie mengungkapkan bahwa pihaknya yang berkerjasama dengan RS St Elisabeth telah mengoperasi 500an pasien sejak wisma berdiri. Diakuinya, awal-awal ia sempat drop atas gunjingan masyarakat yang menuding dirinya mencari sensasi dengan mendirikan wisma hydrocephalus. ''Namun sekarang saya tidak peduli karena saya menjalaninya dengan iklas. Dan memang kenyataannya masih banyak anak yang butuh pertolongan. Saya tidak malu-malu lagi meminta uluran tangan pada para donatur.''
Selain dana, sambungnya, hal lain yang ia butuhkan adalah pakaian pantas pakai, kursi roda, baby walker, buku, dan lain sebagainya.
Pada kesempatan itu, HR Manager Hotel Ciputra Eka Septiana mengatakan bahwa sebagai generasi penerus bangsa dan aset yang sangat berharga, semua anak berhak untuk merasakan kebahagiaan dan keceriaan. Karena itulah ia berharap bantuan berupa dukungan baik moril maupun material yang diberikan seperti bingkisan dan buku yang didukung oleh Penerbit Erlangga itu dapat menciptakan keceriaan bagi mereka.(Ida N-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe