eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

SEMARANG Kompetensi bidang laboratorium saat ini masih belum ada standarisasi. ''Provinsi satu dengan lainnya harusnya memiliki standar yang sama. Bahkan juga harus sama dengan standar di luar negeri.'' Hal itu diungkapkan panitia pelaksana Rakernas VII Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (PALTEKI) Budi Santosa SKm saat jumpa pers di Laboratorium Klinik IBL Jl Tentara Pelajar 16 (18/7). Karena itulah pada rakernas yang akan digelar 21-23 Juli di Hotel Horison dan didahului oleh workshop pada 20 Juli itu, diharapkan menghasilkan output yakni memberikan pelayanan yang berkualitas pada masyarakat.
Rakernas yang bertemakan ''Peningkatan Profesionalisme Analis Kesehatan Melalui Legalitas Kompetensi'' itu diikuti oleh 350an peserta yang terdiri atas para analis kesehatan, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya yang berminat baik yang bekerja di rumah sakit, balai laboratorium kesehatan, laboratorium klinik swasta, institusi pendidikan kesehatan, dan sebagainya. Mereka berasal dari 26 provinsi dan 165 cabang kabupaten se-Indonesia. Pembicara yang akan memaparkan makalahnya adalah para pakar dari Undip, UGM, UNS, UI seperti Prof Pratiwi Sudarmono, Prof Amin Subandrio, Prof Lisyani Suromo, dan sebagainya. Seperti guru yang mengikuti uji sertifikasi, para analis kesehatan nantinya juga harus memiliki sertifikasi sesuai dengan bidangnya.
Panita pelaksana lain, Didik Haryadi SKm menambahkan, walaupun peralatan dan SDM antara satu wilayah dan wilayah lain tidak sama, namun demikian dengan quality control yang dilaksanakan oleh pemerintah maka mutu akan terjaga. ''Alatnya boleh berbeda namun kualitas harus sama.''
Baik Didik maupun Budi mengungkapkan, kebutuhan akan analis kesehatan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Formasi PNS juga bertambah karena ke depan tiap puskesmas setidaknya harus memiliki seorang analis kesehatan. Kebutuhan akan tenaga tersebut oleh laboratorium juga meningkat. ''Tahun 1990an tren masyarakat yang melanjutkan pendidikan jurusan analis kesehatan meningkat. Sempat turun waktu krisis moneter 1998 silam. Dan setelah tahun 2000, trennya naik lagi,'' kata Budi.
Didik menjelaskan, permintaan tertinggi oleh masyarakat pada laboratorium klinik adalah pemeriksaan kadar kolesterol, gula, dan asam urat. ''Kalau sedang musim demam berdarah, banyak orang yang sebelum memeriksakan diri ke dokter, lebih dulu cek lab.''
Diakuinya, berkembangnya suatu laboratorium di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan, ekonomi, dan gaya hidup masyarakat. Bagi kalangan menengah ke atas, sambungnya, memeriksakan diri ke laboratorium mungkin salah satu kebutuhan utama, namun mungkin tidak bagi masyarakat di wilayah terpencil. ''Dan, laku atau tidaknya suatu laboratorium kesehatan tergantung dari pelayanan yang diberikan pada masyarakat. Kalau tidak bisa menjaga kualitas, tentu akan ditinggalkan.'' (H11-)



Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe