eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

3:38 PM

1,5 Juta Orang Hidup dengan Epilepsi

Posted by Eeda |

SEMARANG Penderita epilepsi di dunia saat ini mencapai angka 50 juta. Dan di Indonesia sendiri, 1,5 juta jiwa hidup dengan epilepsi. 300-400 penderita tidak bisa diobati. Kalaupun diobati, akan kambuh terus. ''Padahal mereka bisa diobati dengan tindakan bedah. Jadi, anggapan di masyarakat bahwa epilepsi adalah penyakit keturunan adalah tidak benar mengingat kesembuhannya bisa dilakukan dengan cara operasi.''


Hal itu diungkapkan dokter Zainal Muttaqin PhD SpBS (K) yang akan dikukuhkan sebagai guru besar Undip pada 19 Agustus mendatang. Pada saat jumpa pers bersama Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo MS Med SpAnd di Rektorat Undip Pleburan (12/8), alumnus kedokteran umum FK Undip 1983 itu menjelaskan, persoalan epilepsi atau biasa disebut ayan, harus tuntas diselesaikan. Pasalnya, kata dia, tidak menutup kemungkinan karier seseorang akan hancur jika ia terkena serangan, walau hanya 1 kali namun di tempat yang tidak diperkirakan.
Operasi bagi penderita ayan pertama kali dilakukan pada tahun 2000. Zainal dan timnya sampai saat ini telah mengoperasi 170 orang, yang berasal dari seluruh Indonesia. Menurut pria kelahiran Semarang 24 Nopember 1957 itu, angka permintaan operasi epilepsi cenderung meningkat. 60-70% dari pasien yang pernah ditanganinya bebas kejang (tidak kambuh). 20-25%nya mendapat kebaikan yang artinya frekuensi kejang berkurang. Namun ada juga yang tidak bisa sembuh. Menurut dia, hal itu sangat dipengaruhi oleh lamanya si penderita menderita ayan. Zainalpun terus memantau keadaan pasien pascaoperasi.
Tidak berlebihan jika Rektor dan Pudek IV FK Undip Prod dr Edi Dharmana MSc Sp Park Phd yang juga hadir pada acara itu mengatakan bahwa lulusan Hiroshima University Jepang spesialis bedah syaraf itu tidak semata aset Undip namun juga aset nasional. Pasalnya, para dokter bedah syaraf dari Surabaya, Bandung, dan Jakarta menimba ilmu padanya terkait bedah untuk penanganan epilepsi. Dalam waktu dekatpun ia akan membentuk pusat rujukan nasional untuk epilepsi. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa ia tidak mungkin menyelesaikan penanganan epilepsi sendirian.
Dan usai acara pengukuhan, akan digelar workshop (22-23/8) yang akan dihadiri para dokter bedah dari mancanegara dan Indonesia terkait penanganan epilepsi. Workshop itu menarik minat para dokter luar negeri pasalnya di negara maju kendati persentase penderita ayan kebal obat tidak sebanyak yang tidak kebal obat, namun mereka menghabiskan 80% anggaran kesehatan untuk epilepsi. ''Jika dibandingkan biayanya, ongkos obat untuk 5 tahun, jauh lebih mahal daripada operasi.''
Lantas berapa biaya untuk operasi? di Indonesia, tandas dia, pemegang kartu askeskin tidak akan dikenakan biaya. ''Bagi mereka yang hanya mampu membayar untuk kualitas kelas III, biayanya Rp 6-10 juta, kelas I Rp 17-20 juta, dan VIP Rp 25-30 juta.'' Adapun penyebab ayan berkaitan erat dengan proses perkembangan otak pada waktu masih di dalam rahim usia 1-2 bulan. Selain masalah gizi yang tidak cukup pada masa kehamilan, infeksi seperti tokso atau rubela, sambung dia, juga menjadi penyebab. Hal lain adalah saat proses kelahiran. Misalnya persalinan sulit karena terlilit tali pusar sehingga suplai zat asam berkurang, si bayi tidak langsung menangis saat lahir, dan sebagainya. Anak yang kejang karena demam juga perlu diwaspadai mengingat 10% diantaranya bisa saja karena epilepsi. (H11-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe