eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

4:28 PM

Rasa Malu dan Ketika Persatuan Dipertaruhkan

Posted by Eeda |

SEMARANG- Katanya, bangsa yang besar itu adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya. Kalau ungkapan ini benar adanya, maka jangan heran kalau Indonesia tertindas melulu alias ga bisa jadi besar. Jangankan sama para pahlawan yang sudah meninggal dunia. Wong yang masih hidup saja tidak diajeni kok. Mau bukti? Tengok saja nasib para veteran yang berjuang merebut kemerdekaan. Adakah para pemimpin negeri ini peduli dengan nasib mereka?Padahal kalau mau dirunut kebelakang, mereka tidak mungkin akan menduduki empuknya singgasana kalau para veteran itu tidak berjuang merebut kemerekaan.

Uang pensiun yang mereka terima cuma Rp 600 ribu- Rp 800 ribu. Tragis! Padahal pengorbanan yang sudah mereka berikan untuk negeri ini tidak bisa disetarakan dengan uang sebesar apapun. Saya tahu mereka tak menghadapkan balas budi karena apa yang mereka lakukan dulu didasarkan niat tulus demi kemerdekaan negeri tercinta. Tapi kita dan para pemimpin inilah yang harus tahu diri memberi reward yang pantas bagi mereka agar bisa hidup layak. Ironis sekali melihat kehidupan mereka yang sangat jauh dari mapan. Sedangkan kita dan para pemimpin ini sekarang ini bisa hidup enak karena perjuangan mereka. We should be ashamed of ourselves. Padahal notabene, kita belum bisa memberikan apa-apa bagi negara ini.
Pada 16 Agustus lalu, saya menonton tayangan di Jtv yang menayangkan acara bincang-bincang dengan para veteran. Ada rasa malu terbersit di hati saya, dan para pemuda lain yang masih sedikit punya hati yang menonton acara tersebut, pastinya juga akan malu. Para veteran itu menceritakan bagaimana ada rasa malu pada saat itu jika kawan-kawan lain ikut berjuang, sedangkan ia sendiri tak ikut berjuang. Sudahkah kita memiliki rasa malu ketika menyadari bahwa kita belum menyumbangkan apapun demi negeri ini?
Mereka juga mengungkapkan keprihatinannya dengan generasi muda saat ini yang ''menghiasi'' kemerdekaan dengan tawuran, perkelahian antar kampung/desa, dan berbagai hal negatif lainnya. Padahal, persatuan yang diperjuangkan oleh para veteran demi negara ini harus dibayar dengan harta dan nyawa.
Pelajaran penting yang saya tangkap adalah betapa pentingnya persatuan untuk mencapai tujuan. Dulu, para pemuda bersatu untuk satu tujuan yakni KEMERDEKAAN! Dan mereka berhasil. Sekarang, bagaimana kita mau berhasil jika kita tidak bisa bersatu? berselisih paham sedikit saja sudah main bacok. Anak-anak sekolah saling tawur cuma gara-gara rebutan cewek/cowok. Benar-benar Memalukan...Nggak kelas banget gitu loh!
Para pemimpin juga tidak memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Beda pandangan politik bukan beratri tidak lagi bertegur sapa kan? Wapres Jusuf Kalla sendiri pernah bilang pada saat Seminar Refleksi Seabad M Natsir di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (15/7/2008)bahwa para presiden yang pernah memimpin negeri ini tidak lagi saling bicara. Soekarno nggak ngomong lagi sama Soeharto, Soeharto nggak ngomong lagi sama Habibie, dan begitu seterusnya. Menurut saya, keadaan itu benar-benar memalukan.
Beda pendapat atau ideologi sah-sah saja kok. Kalau semua orang sama, ya betapa boringnya negeri ini tapi hal itu jangan sampai mencampuri urusan pribadi dong. Nggak dewasa banget! Kayaknya, kita semua perlu belajar dari politikus Zaman orla deh. Di gedung DPR, mereka perang ideologi tapi di luar itu, mereka berhubungan dengan akrab. Moh Natsir yang Islam banget bahkan tidak canggung nunut/menumpang sepeda Ketua PKI DN Aidit untuk mengantarkannya pulang.
Natsir pun tak keberatan nyruput kopi traktiran Aidit. Padahal di parlemen, mereka berdebat sangat sengit.
Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari fakta tersebut. Yang jelek ya jangan dicontoh dong, kita kan punya kapasitas untuk memfilter mana yang baik dan mana yang baik. Kalau pemimpin kita sekarang ini kasih contoh yang buruk, ya biarkan saja itu dosa mereka dan mereka yang tanggung sendiri. Kita jangan ikut-ikutan lah, ga keren banget. Hari gini kok musuhan.

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe