eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya


''SAYA berharap para santri bisa menjawab tantangan John Esposito, yang datang ke Indonesia awal bulan lalu. Di mana umat Islam sendirilah yang harus mempublic relationkan tentang Islam kepada Barat. Apalagi selama ini, Islam khususnya pesantren dikonotasikan sebagai sarang kekerasan dan terorisme.''

Itulah alasan mengapa KH Musta'in Ar Ruri (37) pengasuh pondok pesantren Daarul Qur'an yang berlokasi Jl Syuhada Raya 92 Telogosari Kulon Pedurungan saat ini membuka pintu bagi siapa saja yang ingin menjadi hafiz Alquran di tempat itu. Dan menerima siapa saja yang ingin berkunjung dan menularkan ilmunya pada para santri.

Karena itulah pada sepuluh hari terakhir Ramadan 1429 H ini, ada yang istimewa di pesantren yang mengkhususkan pada menghafal Alquran tersebut. Musta'in membuka ruang yang seluas-luasnya bagi kedatangan narasumber dari berbagai latar belakang. Mulai dari jurnalis, inspiring blogger R Agus dari semarangreview.blogspot, sampai penulis buku best seller "Finansial Spiritual Quotient" Ir Iman Supriyono MM.

Selanjutnya, Musta'in menyelenggarakan seri pelatihan menulis dan blogging para santri.''Saya berharap, selain untuk membuka wawasan santri tentang dunia luar, mereka juga bisa mengembangkan model dan memperbaharui terminologi dakwah Islamiyah.'' Dikatakannya, selama ini dakwah mengalami penyempitan arti sebagai penyampaian nilai Islam secara lisan (dakwah bil-lisan). Karena itulah alumni Pesantren Tahfidzul Qur'an al Asy'Ariyah Wonosobo tersebut berkeinginan agar para santri bisa mengkayakan kembali tradisi dakwah dengan tulisan. ''Bisa dakwah bil-blog, bil-opini. Syukur-syukur bisa dikembangkan menjadi dakwah bil-buku.''

Tamu dari Senegal
Pada Ramadan tahun ini, pondok yang memiliki 30 santri dari usia SMP sampai perguruan tinggi tersebut juga kedatangan tamu dari Senegal yakni Abdoul Baldé. Mahasiswa jurusan Geografi semester 3 Université Cheikh-Anta Diop di Dakar itu adalah peserta program Darmasiswa. Dan untuk setahun ke depan, ia akan menimba ilmu di Undip, mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia. Ketertarikan bungsu dari 6 bersaudara itu datang ke Indonesia karena sebagian besar penduduk negeri ini Muslim, seperti dirinya. Di Senegal, sambung Abdoul, 90% lebih dari 12 juta penduduk adalah Muslim.

Dan kedatangannya ke pesantren itu, selain untuk menimba ilmu tentang Islam, ia juga menceritakan pada para santri tentang negaranya dan perkembangan Islam di sana. Di akhir sesi, Abdoul dipersaudarakan dengan salah satu santri Adi Ibnu Faiz (19). Sebuah tradisi menarik yang mengadopsi Nabi Muhammad SAW saat mempersaudarakan Kaum Muhajirin (asal Mekkah) dengan kaum Anshar (penduduk asli Madinah) di era umat Islam berhijrah ke Madinah. ''Saya akan ajarkan Bahasa Perancis (bahasa sehari-hari Abdoul -Red) kepada Faiz. Dan dia, akan ajarkan saya menghafal Alquran.'' Selama acara berlangsung, Faizlah yang menjadi penerjemah dalam Bahasa Inggris.

Isteri Musta'in, Siti Muniroh (34) yang mengajarkan tata bahasa Arab menambahkan, pesantren tak pernah mewajibkan santrinya untuk membayar uang pondokan, biaya makan, dan biaya pendidikan. Hal itu makin memantabkan tradisi klasik pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menjangkau masyarakat pinggiran. Dan untuk penyebaran konsep menghafal Alquran itu mudah, sambung Musta'in, dalam waktu dekat, Daarul Qur'an yang berdiri sejak tahun 2004 dan telah menjadikan empat orang santrinya hafal Alquran (hafiz) tersebut akan membuka kelas pengajaran jarak jauh. ''Kelas ini dikhususkan untuk eksekutif muslim yang berkeinginan untuk belajar menghafal Alquran.'' (Ida N-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe