eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya


SEMARANG-Salah satu cara paling ampuh untuk menanamkan ideologi bangsa pada para pemuda adalah dengan memberikan pelajaran sejarah yang bermakna di bangku sekolah. Namun sayang, pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah -sekolah Indonesia tidak bermakna bagi murid-murid. Hal itu diungkapkan mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Menteri Transmigrasi dan PPH DR (Hc) Ir Siswono Yudo Husodo saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Kepemudaan di Gedung Prof Soenardi Undip Pleburan (17/11).

Pada acara yang diprakarsai oleh BEM KM Undip dan bertemakan ''Membangkitkan Semangat Juang Pemuda dalam Meneruskan Cita-cita Luhur Bangsa'' itu, Siswono mencontohkan murid-murid sekolah di AS yang tahu benar ungkapan dari salah satu isi pidato mantan presiden JFK yang terkenal itu ''ask not what your country can do for you - ask what you can do for your country''.
''Mereka tahu mengapa presiden AS saat itu membeli Lousiana dari Prancis dan Alaska dari Rusia.'' Keadaan tersebut, kata Siswono, berbeda jauh dari pengajaran Sejarah di Indonesia yang tidak punya makna. Contohnya, kata dia, saat Sultan Agung menyerang Batavia. ''Kita tidak tahu mengapa Sultan Agung melakukan itu. Begitu juga perjuangan yang dilakukan pahlawan-pahlawan lain.''
Siswono yakin, menanamkan ideologi bangsa dengan memberikan pelajaran sejarah yang bermakna di sekolah, jauh lebih efektif daripada penataran P4 atau membentuk BP7 seperti zaman Orba dulu. Ia berharap semua elemen bangsa mengubah mind set agar ke depan tidak ada lagi percekcokan antar golongan/agama. Namun demikian ia optimistis Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan mengingat potensi baik SDM dan SDA di negara ini sangat besar.
Adapun pembiara lain dosen FISIP Undip Drs Teguh Yuwono MPol Admin mengutarakan bahwa salah satu cara yang paling ampuh bagi para pemuda untuk mengubah keadaan adalah dengan masuk ke parpol. ''Dengan masuk ke struktur politik, perubahan bisa dilakukan.''
Teguh juga menyinggung tentang tidak terpilihnya orang-orang yang tidak kompenten menjadi pemimpin. ''Yang dipilih hanya yang populer. Masak tokoh reformasi kalah dalam pilpres.''
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terkait minimnya perhatian Pemerintah terhadap siswa/mahasiswa berprestasi. Ia mencontohkan pemenang olimpiade fisika dari Papua yang malahan akan disekolahkan oleh Pemerintah Singapura sampai S3 dan bekerja di sana. ''Lha kalau di sini, menang Pimnas paling-paling cuma dapat fasilitas bebas SPP dari universitas.''
Ketua PWI Jateng Sriyanto Saputro berpendapat bahwa pemuda memiliki potensi yang besar, karena itulah menjadi incaran bagi orang-orang yang memiliki kepentingan pragmatis. ''Supaya tidak terjerembab, pemuda harus memiliki idealisme.'' (H11-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe