eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

6:00 PM

Ubah Model Pembelajaran di Perguruan Tinggi

Posted by Eeda |

SEMARANG- Model pembelajaran di perguruan tinggi (PT) di Indonesia harus dilakukan perubahan. Mahasiswa harus ditempatkan sebagai pusat belajar yang secara aktif di kelas menyampaikan gagasan atau ide serta argumentasi, mengomentari sebuah topik atau materi kuliah yang disampaikan. Hal itu diungkapkan Ketua Lepdik Undip Dr Ir Mukh Arifin MSc pada pelatihan mengajar yang efektif di perguruan tinggi di Lembaga Pendidikan Gedung Widya Puraya Kampus Undip Tembalang belum lama ini.

Pada acara yang diikuti oleh 50 dosen dari semua fakultas di Undip itu, ia juga mengimbau agar dosen dalam memberikan perkuliahan di dalam kelas sebaiknya tidak menghabiskan waktunya dengan banyak bicara. Tetapi lebih pada upaya untuk mendorong mahasiswa lebih aktif lagi berbicara di dalam kelas. ''Hal tersebutlah yang selama ini kerapkali memberikan hasil atau keluaran yang tidak bagus bagi sarjana di Indonesia.''
Perubahan Radikal
Pembicara pelatihan yakni dosen FE dan Bisnis UGM Drs Suwardjono MSc PhD yang menyampaikan materi ''Revolusi Paradigma Pembelajaran Perguran Tinggi dari Penguliahan ke Pembelajaran'' menekankan bahwa universitas yang ada di Indonesia perlu melakukan perubahan yang radikal dan fundamental pada sistem pendidikan. ''Dengan demikian akan menghasilkan output atau keluaran yang jauh lebih berkualias ketimbang masih mempertahankan dan menggunakan model lama.''
Pembebalan Mahasiswa
Model yang lama dalam sistem pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia di mana dosen menjelaskan dan memberikan materi dalam kelas pada mahasiswa, tandasnya, pada dasarnya adalah bentuk pembebalan pada mahasiswa. Dalam hal ini, imbuhnya, perlu bagi dosen untuk merubah pola pikir merasa jauh lebih pintar dari mahasiswa dan pusat segala ilmu. Selain itu, kata dia, pada dasarnya banyak sekali problematika yang membuat proses pembelajaran tidak baik seperti terbatasnya penguasaan materi mahasiswa pada satu tema sehingga rata-rata mereka malas bertanya.
Tak Punya Kecakapan Bahasa
Ditambahkannya, fenomena lain yang semakin menunjukkan rendahnya kualitas sarjana Indonesia adalah pada aspek penggunaan bahasa. Banyak sekali mahasiswa yang tidak mempunyai kecakapan dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar untuk menyampaikan argumentasi di kelas.
Mahasiswa belum terefleksi sebagai sarjana dan dosen belum mengetahui bagaimana proses pembelajaran yang baik. ''Pada akhirnya mereka menjadi sarjana yang tidak memiliki kepribadian kesarjanaan yang baik seperti sikap yang santun, tutur bahasa yang baik dalam bahasa keilmuan, kearifan dalam pengetahuan yang luas.''
Menurut dia, pada dasarnya mahasiswa sudah punya dasar berupa kemampuan komunikasi informasional berupa kesukaan membaca majalah atau media yang bernilai hiburan. Jadi, imbuhnya, tugas dosen adalah menumbuhkan kesukaan terhadap membaca bukan saja bacaan yang bersifat informasional tetapi juga bacaan ilmiah, karena membaca akan memberikan kemudahan dalam beragumen dan mengungkapkan sesuatu secara teratur.
''Penting bagi dosen untuk menciptakan pengalaman menyenangkan bagi mahasiswa ketika belajar. Kuliah jangan sampai dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan serta mencoba untuk menghapus citra bahwa dosen adalah dewa pengetahuan.''
Konsepsi tentang dosen secara progresif mesti diubah, seperti dosen yang baik adalah dosen yang mengajar secara sistematis, rinci dengan makalah serta memberikan catatan yang persis seperti buku teks.
Jenuh
Pembicara lain dosen psikologi Undip Dra Hastaning Sakti MSi menengarai adalnya fenomena di mana mahasiswa mengalami tingkat kejenuhan yang sangat tinggi dalam proses perkuliahan dengan menggunakan model dikte atau mendengarkan dosen menyampaikan perkuliahan. Merespon hal tersebut, ungkapnya, penting bagi dosen untuk memiliki kompetensi yang baik untuk dapat menciptakan ruang belajar yang jauh lebih efektif dan baik dengan lebih fleksibel, partisipatif dan akomodatif serta lebih kreatif.
Upaya untuk mencapai hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan model Interactive Skill Station Information Technology(ISS-IT). Yakni suatu metode yang menekankan pada keterampilan aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi berbasis teknologi informasi. ''Dosen yang menggunakan model pembelajaran demikian harus mampu
berperan sebagai mediasi atau fasilitator yang dipadukan dengan teknologi informasi.'' Tujuan yang ingin dicapai dengan model belajar seperti itu adalah meningkatkan atmosfir akademik melalui peningkatan kualitas pembelajaran melalui optimalisasi kualitas dosen dan mahasiswa.
''Mahasiswa ditekankan agar lebih punya soft skillterutama pada peningkatan kemampuan komunikasi yang baik, percaya diri dalam menyatakan pendapat, lebih mudah menyerap dan mengingat materi pelajaran. ''(H11-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe