eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

2:06 AM

Bisa Hidup dari Musik

Posted by Eeda |


Beberapa puluh tahun lalu, hidup sebagai musisi bisa dibilang tidak menjanjikan. Maka tidak heran jika banyak orangtua yang tidak senang jika buah hatinya memilih jalan hidup sebagai musisi, atau anaknya menikah dengan musisi. Namun keadaan saat ini tidak demikian. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya musisi-musisi muda di belantika musik Indonesia yang dapat hidup mapan. Karena itulah, Samboedi, drummer senior yang telah menelurkan drummer-drummer yang saat ini bermain di band-band terkenal seperti Sheila on 7, Samsons, dan lain-lain berobsesi mencetak musisi Indonesia yang bertanggungjawab, bermutu, dan punya attitude.

Hal itu diungkapkannya saat ditemui Suara Merdeka di sekolah musik miliknya, Samboedi Music School di Jl Kesatrian K-29 (30/4).
''Yang saya maksudkan dengan bertanggungjawab adalah seorang musisi harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri, Tuhan, orangtua, masyarakat, dan kancah musik itu sendiri. Item-item itu tidak bisa diartikan secara parsial, melainkan harus satu paket,'' kata pria kelahiran 19 Juni 1945 tersebut.
Tak Paksakan Aliran
Oleh karenanya dalam waktu dekat, guru dari musisi Gilang Ramadhan itu berencana menggelar workshop drum dan perkusi yang diperuntukkan untuk meningkatkan musikalitas mereka . Namun demikian, sekolah musik milik pria yang mendalami drum secara otodidak sejak 1961 itu tidak hanya mengajarkan alat musik drum, tapi juga kibor, gitar, bas, dan vokal. Adapun para guru yang ia rekrut adalah praktisi di bidangnya masing-masing. ''Saya ingin sekolah musik ini menjadi rumah kedua bagi para musisi. Begitu masuk, aroma musiknya sudah tercium. Jadi, tidak sekedar tempat latihan, namun juga tempat untuk sharing pengetahuan dan pengalaman.'' Sebagai tambahan informasi, hampir semua musisi jazz beken yang manggung di Semarang seperti Ermy Kullit, Mus Mudjiono, Laurentz Manaba, dan sebagainya sebelum naik pentas, selalu menyempatkan diri berlatih dulu di sekolah musik tersebut.
Kendati dikenal sebagai drummer beraliran jazz, namun Samboedi tidak pernah memaksakan aliran musik itu pada murid-muridnya. ''Lihat saja murid-murid saya yang sekarang sudah menjadi musisi terkenal, alirannya kan beda-beda semua,'' ujar mantan pengajar di Sekolah Musik Farabi milik Dwiki Dharmawan sejak pertengahan 1997-2005 itu.
Mengingat sekolah musiknya tersebut tidak sama dengan tempat kursus musik, maka kurikulum yang digunakan seperti layaknya di perguruan tinggi. Para siswa, imbuhnya, sesuai dengan kemampuannya terbagi atas 3 level, yakni basic, intermediate, dan advance dengan masa belajar untuk masing-masing level adalah 1 tahun.
Kendati para siswa dibebaskan memilih aliran sesuai kemauannya, namun di sekolah itu mereka semua dilatih berbagai aliran musik seperti Latin dan Basic Swing/jazz feel. ''Mempelajari Latin sangat berguna untuk melatih rhythm section bas dan drum. ''Jadi kalau saya bilang pemain drum dan bas harus kawin ya jangan diartikan kawin sebenarnya.'' Sedangkan jazz feel, diajarkan untuk mengasah rasa mereka karena mempelajari jenis musik apapun harus dengan rasa.''
>Musik di Semarang
Lantas, bagaimana seorang Samboedi menilai perkembangan musik di Semarang? Dijelaskannya, Semarang sebenarnya menyimpan potensi musik yang besar. Banyak musisi-musisi besar yang lahir di Kota ATLAS, ungkap dia, namun sayangnya tidak banyak terekspos. Seperti penggagas North Sea Jazz Festival Paul Acket yang ternyata adalah kelahiran Semarang. Wadah untuk berekpresi bagi para musisi, sambung dia, sebenarnya tersedia di Semarang. ''Namun sayang, masyarakat Semarang masih banyak yang belum menghargai musik. Apa-apa ditawar.'' Hampir setiap akan menggelar pertunjukan, imbuh dia, hal utama yang dipikirkan adalah unsur komersial. ''Padahal, seperti musik Jazz, belum bisa demikan.'' Karena itulah ia berharap ada kepedulian dan perhatian dari pihak sponsor musik di Semarang, orang yang peduli pada musik, dan musisi itu sendiri agar dapat saling mendukung memajukan musik di Kota ATLAS. (Ida N-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe