eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya

SEMARANG- Banyak yang mengira kalau kita sudah mengenakan masker, akan terhindar dari penularan virus H1N1. ''Mengurangi kemungkinan mungkin iya tapi tidak bisa mencegah.'' Hal itu diungkapkan Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo MS Med Sp And saat seminar nasional ''Antisipasi Pencegahan Penyebaran Flu Babi (virus H1 N1)'' di Gedung Prof Sudartho SH, Undip Tembalang (19/5).

Cara efektif untuk mencegah penularan antara lain, kata dia, adalah mencuci tangan setelah bersalaman atau menyentuh sesuatu yang ditengarai terkontaminasi virus itu. ''Orang yang sakit, jangan keluar rumah. Selain itu juga meminimalisir kontak dengan babi, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin dan tidak mengunjungi negara yang warganya banyak terkena flu babi.''
Kendati demikian, Rektor tidak setuju jika solusi untuk mencegah penyebaran virus itu adalah dengan memusnahkan babi di semua peternakan seperti yang dilakukan Pemerintah Mesir. ''Peternak pastinya akan rugi besar. Kalau ada manusia yang terjangkit flu itu, bukan berarti manusia harus dimusnahkan.''
Ia menengarai bahwa ada pihak-pihak yang memiliki tujuan tertentu dengan membuat panik warga dunia dengan penyebaran virus itu. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan ini akal-akalan WHO. ''Yang jelas, produsen vaksin sudah siap-siap meningkatkan produksi. Ini bisnis yang sangat menguntungkan. Mereka jual vaksin dengan menakut-nakuti warga dunia.'' Ia menilai kejadian itu sebagai usaha untuk mendongkrak ekonomi AS yang sedang memburuk.
Pada acara yang diprakarsai Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip itu, Kadinas Kesehatan Provinsi Jateng Hartanto yang menjadi pembicara pada seminar itu menjelaskan, pencegahan/antisipasi dan pemberantasan flu babi harus dimulai dari sekarang. Apalagi sebentar lagi, sambung dia, musim haji akan tiba di mana 2 juta manusia dari seluruh dunia akan berkumpul di Arab Saudi. Lantas siapakah kelompok resiko tinggi flu H1N1? Hartanto menjelaskan, mereka adalah orang yang berasal dari negara terjangkit, TKI, pekerja peternakan/pemroses babi, pekerja laboratorium, pengunjung peternakan babi, kontak dengan pasien flu H1N1, dan masyarakat yang mengonsumsi daging babi yang dimasak tidak sempurna. ''Depkes sendiri telah melakukan 6 langkah kesiapsiagaan terkait flu tersebut yakni mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit itu dari berbagai sumber.'' Selain itu berkoordinasi dengan WHO untuk memantau perkembangan, membuat surat edaran kewaspadaan diri, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Deptan, Deplu, dan lain-lain.
Di Jateng sendiri, imbuhnya, pemda sudah menugaskan SKPD terkait untuk koordinasi, melalukan sosialisasi terkait pencegahan, pengawasan lalu lintas dan kebersihan peternakan, menyiapkan RS, laboratorium klinik rujukan,masker, tamiflu, disenfektan, dan sebagainya.
Pakar epidemiologi dr Agus Suwandono MPH PhD mengungkapkan gejala-gejala flu pada babi yakni karakteristik penyakit onset mendadak dan menyebar dengan cepat pada peternakan babi (1-3 hari), demam (104-107 derajat farenheit), nyeri otot dan ada kelemahan kaki, keluar cairan dari mata dan hidung. ''Babi juga tak napsu makan, batuk bersin, terdengar suara ngorok, diare, dan berakhir dengan kematian walau mortality rate rendah yakni 1-4%.'' Yang terpenting, tandasnya, mencegah agar virus ini tak masuk Indonesia.
Pakar virologi dan zoonosis Prof drh Widya Asmara SU PhD menjelaskan bagaimana flu babi bertransmisi ke manusia yakni dengan kontak dengan babi yang sudah terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi dengan virus H1 N1. ''Kontak dengan orang yang kena flu babi juga bisa. Itu bisa melalui batuk dan bersin orang yang sudah terinfeksi.''
Pembicara lain yakni pakar infeksi dan pulmonologi yang juga tim emerging infectious diseases RSUP Dr Kariadi, dr Agus Suryanto SpPD KP memaparkan bahwa RS tersebut telah melakukan berbagai persiapan untuk menangani pasien dan suspect flu burung dan babi yakni dengan memiliki tim emerging infectious diseases yang terdiri atas berbagai dokter spesialis yang terintegrasi, melakukan standar prosedur operasional, koordinasi lintas sektoral, serta membuat jejaring eksternal. ''Kami juga melengkapi sarana dan prasarana seperti ruang isolasi, observasi, perawatan intensif, peralatan medis/nonmedis, serta laboratorium rujukan regional.'' (H11-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe