eeda journey

catatan reportase seorang jurnalis:
pendidikan,hukum,sosial politik, budaya


SEMARANG- Tidak dimungkiri bahwa salah satu kekuatan radio dalam menarik perhatian pendengarnya adalah suara si penyiar yang enak. Namun ternyata, memiliki suara emas bukan semata modal utama untuk bisa menjadi penyiar yang baik. Hal itu diungkapkan Parma Andhika Puspita Dewi yang sudah bekerja belasan tahun berprofesi sebagai penyiar radio dan saat ini bekerja di Radio Elshinta pada Seminar Menjadi Penyiar Radio Profesional di Perpustakaan FISIP (19/6).

''Seorang penyiar yang baik juga harus memiliki wawasan yang luas, pengetahuan musik dan sense of humor yang baik.'' Suara yang bagus sekalipun, tandasnya, akan menjadi tidak enak jika si pemilik suara selalu mengucapkan kata yang sama berulang-ulang seperti ''ok'', ''yang pasti'', ''pastinya''. Kebiasaan buruk itu, imbuhnya, harus dihilangkan. Dan itu bisa dihilangkan dengan menambah wawasan. Pasalnya kelancaran berbicara tergantung dari wawasan penyiar.
Pada acara yang diprakarsai oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undip itu, Parma juga menjelaskan bahwa sebuah program radio harus memiliki daya tarik bagi pendengarnya dan juga pemasang iklan. ''Keduanya harus dibatkan.''
Pembicara lain yakni Shinta Ardhany (co-responder CVC Australia) berkesempatan memberikan penilaian kepada para peserta yang menjajak kemampuannya menjadi penyiar di acara tersebut. Yang bersangkutan memberikan tips bagaimana mengatur intonasi, artikulasi, penekanan, jeda, dan sebagainya. Shinta juga mengingatkan bahwa untuk menjadi seorang penyiar harus memiliki kemampuan bicara yang bagus, penampilan menarik, sajian kata-kata yang berkualitas, dan menguasai medan. ''Yang jelas, harus berkemauan keras untuk terus berlatih dan praktik.'' (H11-)

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
Subscribe